Entri Populer

Selasa, 01 Maret 2011

BERCERMINLAH SEBELUM MENGKRITIK


 Djunaedi

Saat seseorang mengharapkan orang lain di sekitarnya menilainya dengan kesan positif, maka yang terlebih dahulu yang harus atau biasa dilakukannya adalah melakukan penataan tampilan pribadi. Secara fisik maka diperlukan olehnya sebuah cermin yang akan membantunya melihat segala kekurangan tampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jika semua kekurangan sudah yakin dibenahi, maka dengan percaya diri dia akan melenggang menuju komunitasnya tanpa digelayuti perasaan rendah diri.
Begitu pula jika kita ingin diterima dengan baik di manapun lingkungannya, maka sedari awal kita seharusnya berupaya memperbaiki kepribadian kita. Seringnya terjadi kekisruhan antar pribadi dalam pergaulannya di ranah politik, ekonomi, budaya, idealisme, agama dan lain-lain tak lebih disebabkan oleh  minimnya kemampuan mereka dalam memahami pribadinya. Masing-masing orang sibuk sekali untuk meneliti dan mencari-cari aneka kekurangan orang lain sambil berupaya menutupi berbagai kekurangan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Mereka lihai menyeru sambil menutup mata dan menyumbat telinga. Mereka lihai menegur sambil mempromosikan ke “aku”annya yang masih minus moral. Mereka jago menuding dengan 1 jari telunjuknya padahal 4 jari lain mengarah pada mereka sendiri.
Slogan 3M yang dikampanyekan KH. Gymnastiar dalam berbagai safari dakwahnya di bawah bendera Manajemen Qolbu serasa sejalan dalam upaya kita melakukan pencerminan kepribadian. Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang kecil-kecli dan mulai sekarang juga.
Kata-kata nasehat atau teguran akan memiliki kekuatan jika pelontarnya sudah terlebih dahulu melakukan isi dari materi nasehat itu sendiri karena target dari peluru nasehat adalah sesuatu atau orang yang belum sesuai dengan maksud pelontar, walhasil jika si pelontar termasuk dalam target, maka jadilah senjata makan tuan. Banyak tuan-tuan nasehat dan tuan-tuan kritis yang jatuh terjerembab terpanah nasehat dan kritikannya sendiri. Seorang koruptor akan kebal ketika dikritik oleh orang-orang yang gemar menerima upeti. Seorang pencuri tidak akan peduli dengan nasehat seorang penipu. Seorang pelacur akan terus melacur walau sudah berulang kali ditegur oleh Pak Lurah yang hobbynya mengganggu istri orang lain. Selama kita masih menjadi bagian dari kerusakan maka tiada guna kita mengutuk kerusakan itu sendiri.
Semangat bercermin bukan berarti semangat pula untuk membungkam aspirasi dan berdiam dari kerusakan karena semangat bercermin adalah perbekalan kita yang akan menjadi amunisi untuk merontokkan ketidakadilan dan kemungkaran. Ibda’ binafsik. Fasda’ bima tu’maruu. Mulailah dari dirimu sendiri dan ke luarlah untuk menyeru.
Ada baiknya kita perahatikan tausiyah Ustadz Mario Teguh berikut ini : Seandainya setiap orang yang suka mengkritik adalah juga orang yang suka membantu dengan pekerjaan yang nyata,...dunia ini akan damai, penduduknya sejahtera dan berbahagia. Tapi, mereka yang banyak komentar dan mencela itu adalah orang yang biasanya hanya mengganggu pekerjaan orang-orang yang betul-betul bekerja. Jika yang kita katakana tidak meningkatkan nilai pekerjaan sesama, hening dan damailah.
Nah, dari pada cuma pandai kritik sana sini, alangkah baiknya kita berlaku ihsan, ikut campur tangan dalam perbaikan bersama. Sampaikan solusi atas segala masalah supaya terbebas dari belenggu kesulitan.
Tak ada gading yang tak retak. Tak akan ada kesempurnaan kecuali jika kita sama-sama bergegas untuk mencapainya pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar