Djunaedi
Saat seseorang mengharapkan orang
lain di sekitarnya menilainya dengan kesan positif, maka yang terlebih dahulu
yang harus atau biasa dilakukannya adalah melakukan penataan tampilan pribadi.
Secara fisik maka diperlukan olehnya sebuah cermin yang akan membantunya
melihat segala kekurangan tampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jika
semua kekurangan sudah yakin dibenahi, maka dengan percaya diri dia akan
melenggang menuju komunitasnya tanpa digelayuti perasaan rendah diri.
Begitu pula jika kita ingin
diterima dengan baik di manapun lingkungannya, maka sedari awal kita seharusnya
berupaya memperbaiki kepribadian kita. Seringnya terjadi kekisruhan antar
pribadi dalam pergaulannya di ranah politik, ekonomi, budaya, idealisme, agama
dan lain-lain tak lebih disebabkan oleh minimnya kemampuan mereka dalam memahami
pribadinya. Masing-masing orang sibuk sekali untuk meneliti dan mencari-cari
aneka kekurangan orang lain sambil berupaya menutupi berbagai kekurangan dan
kelemahannya sendiri-sendiri. Mereka lihai menyeru sambil menutup mata dan
menyumbat telinga. Mereka lihai menegur sambil mempromosikan ke “aku”annya yang
masih minus moral. Mereka jago menuding dengan 1 jari telunjuknya padahal 4
jari lain mengarah pada mereka sendiri.
Slogan 3M yang dikampanyekan KH.
Gymnastiar dalam berbagai safari dakwahnya di bawah bendera Manajemen Qolbu
serasa sejalan dalam upaya kita melakukan pencerminan kepribadian. Mulai dari
diri kita sendiri, mulai dari yang kecil-kecli dan mulai sekarang juga.
Kata-kata nasehat atau teguran akan
memiliki kekuatan jika pelontarnya sudah terlebih dahulu melakukan isi dari
materi nasehat itu sendiri karena target dari peluru nasehat adalah sesuatu
atau orang yang belum sesuai dengan maksud pelontar, walhasil jika si pelontar
termasuk dalam target, maka jadilah senjata makan tuan. Banyak tuan-tuan
nasehat dan tuan-tuan kritis yang jatuh terjerembab terpanah nasehat dan
kritikannya sendiri. Seorang koruptor akan kebal ketika dikritik oleh
orang-orang yang gemar menerima upeti. Seorang pencuri tidak akan peduli dengan
nasehat seorang penipu. Seorang pelacur akan terus melacur walau sudah berulang
kali ditegur oleh Pak Lurah yang hobbynya mengganggu istri orang lain. Selama
kita masih menjadi bagian dari kerusakan maka tiada guna kita mengutuk
kerusakan itu sendiri.
Semangat bercermin bukan berarti
semangat pula untuk membungkam aspirasi dan berdiam dari kerusakan karena
semangat bercermin adalah perbekalan kita yang akan menjadi amunisi untuk
merontokkan ketidakadilan dan kemungkaran. Ibda’ binafsik. Fasda’ bima
tu’maruu. Mulailah dari dirimu sendiri dan ke luarlah untuk menyeru.
Ada baiknya kita perahatikan
tausiyah Ustadz Mario Teguh berikut ini : Seandainya setiap orang yang suka
mengkritik adalah juga orang yang suka membantu dengan pekerjaan yang
nyata,...dunia ini akan damai, penduduknya sejahtera dan berbahagia. Tapi, mereka
yang banyak komentar dan mencela itu adalah orang yang biasanya hanya
mengganggu pekerjaan orang-orang yang betul-betul bekerja. Jika yang kita katakana
tidak meningkatkan nilai pekerjaan sesama, hening dan damailah.
Nah, dari pada cuma pandai kritik
sana sini, alangkah baiknya kita berlaku ihsan, ikut campur tangan dalam
perbaikan bersama. Sampaikan solusi atas segala masalah supaya terbebas dari
belenggu kesulitan.
Tak ada gading yang tak retak. Tak akan
ada kesempurnaan kecuali jika kita sama-sama bergegas untuk mencapainya pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar