Entri Populer

Kamis, 02 Desember 2010

MENYAMBUT TAHUN BARU HIJRIYAH 1 MUHARRAM 1432 H


Oleh : Djunaedi, S.Pd.I

Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado


 

Bercermin Dari Bencana Alam Untuk Introspeksi Diri

Menyambut Datangnya Tahun Baru Hijriyah




DALIL

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya), dan manusia bertanya mengapa bumi jadi bengini?. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia telah keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan (pekerjaan) mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberap zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.(Qs. Al Zilzal : 1-8)

 

ULASAN

Terjemah Al Quran Surat Al Zilzal di atas adalah ilustrasi / gambaran tentang hari yang akan datang. Allah SWT pada hari kemudian nanti akan menggoncang-goncang bumi dengan keras, lalu muntahlah apa yang ada di dalam bumi berupa beban-beban berat dan bumi seakan berkata bahwa apa yang terjadi padanya sudah merupakan perintah Penguasa jagat raya. Saking kerasnya guncangan dan dahsyatnya muntahan material yang keluar dari perut bumi yang mana belum pernah terjadi sebelumnya, manusia jadi heran mengapa hal itu bisa terjadi, bahkan  di luar prediksi para ilmuwan yang sangat pakar tentang geologi.

Akhir-akhir ini fenomena bencana alam di tanah nusantara seolah tak henti-hentinya susul menyusul terjadi. Belum genap 1 dasawarsa telah terjadi berbagai bencana alam. Banjir yang menghanyutkan harta benda dan mahluk bernyawa bergantian dengan longsor yang menghancurkan rumah-rumah serta menewaskan sejumlah manusia. Disusul gempa bumi yang menghancurkan segala yang ada di atasnya dan terkadang diikuti dengan gelombang tsunami yang berhasil menyapu bersih rumah-rumah penduduk tepian pantai hingga radius ratusan meter. Gunung-gunung api yang telah lama tertidur dari aktifitasnya belakangan telah meletus sehingga memaksa penduduk di sekitarnya  mengungsi ke tempat yang lebih aman di samping juga telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa

Kejadian itu semua barulah miniatur hari kiamat yang sesungguhnya. Goncangan gempa bumi yang pernah terjadi dengan dahsyat sekali pun paling-paling hanya berkisar 4 – 8 SR. Bagaimana seandainya gempa bumi berkekuatan lebih dari itu? Wallahu a’lam entah apa yang bakal terjadi.

Begitu pula dengan banjir bandang. Seandainya air lautan tumpah ke daratan dalam jumlah yang signifikan, kemungkinan besar habislah semua penduduknya. Atau seandainya semua gunung berapi yang ada di tanah air meletus semuanya secara bersamaan atau berturut-turut dengan kekuatan erupsi yang dahsyat, luar biasa kebinasaan yang akan terjadi.

Dulu, waktu terjadi tsunami di Aceh tahun 2006 jumlah orang meninggal dunia mencapai angka ratusan ribu. Gempa di Yogya mencapai angka ribuan jiwa. Gempa di Tasikmalaya juga menyebabkan hampir seribu orang menemui ajal. Lalu seandainya diakumulasi dengan korban bencana baru-baru ini seperti banjir longsor di Wasior, Tsunami Mentawai dan Erupsi Gunung Merapi Yogya serta bencana-bencana kecil lainnya, tentu saja luar biasa banyaknya. Belum kalau dihitung kerugian materilnya yang mencapai triliunan rupiah. Masya Allah, betapa makin bangkrutnya negeri ini jika terus menerus diterpa bencana dahsyat.

Berbicara tentang musibah bencana rasanya sangat relevan dengan posisi kita saat ini yang tengah berada di sepertiga terakhir bulan Zulhijjah karena dalam hitungan kurang dari 10 hari kita akan memasuki bulan Muharram sebagai tanda pergantian tahun Hijriah. Tahun hijriah ditetapkan oleh Khalifah Umar ra sebagai awal penangggalan kalender ummat Islam. Umar ra. berlogika bahwa peristiwa Hijrahnya Nabi saw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah memiliki banyak hikmah  yang dalam dan amat monumental untuk dijadikan titik tolak penanggalan hijriyah.

Peristiwa hijrah bukanlah semata-mata cerita tentang orang yang berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar peristiwa pindahan massal. Bukan sekedar menyelamatkan jiwa dari ancaman kematian orang-orang kafir Quraisy pada saat itu. Peristiwa hijrah adalah bentuk perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman dalam rangka menuyelamatkan aqidah dan dakwah.

Supaya dakwah lebih luas pengaruhnya dan mendapat dukungan yang kuat setelah ditolak di tempat asalnya tumbuh, maka harus mencari lahan-lahan baru yang kondusif. Tanpa wilayah yang penduduknya mendukung dakwah atau dakwah hanya ditopang oleh segelintir orang maka umur dakwah tidak akan bertahan lama jika terus-menerus digerogoti oleh musuh-musuhnya yang sebegitu banyak dan kuat serta menyerang dari segala penjuru.

Peristiwa Hijrah seolah telah mengubah peta kekuatan ummat Islam dihadapan musuh-mushnya kala itu. Peristiwa Hijrah juga menjadi awal berdirinya daulah Islamiyah di tanah Madinah Al Munawaroh. Itulah hakekat dari peristiwa hijrah.

Oleh ummat Islam peristiwa hijrah diperingati dalam rangka menata jati diri. Mengintrospeksi segala amalan dan ibadah sepanjang tahun yang lalu. Menghitung-hitung amal baik dan buruk kita yang nantinya akan ditimbang di Yaumil Mizan.

 

RENUNGAN

Kejadian-kejadian bencana yang seolah tengah bersafari keliling Indonesia dari sabang hingga merauke sudah seharusnya menjadi moment berharga bagi kita untuk merefleksi dan sekaligus mengevaluasi diri kita. Makna dari akhir surat Al Zilzal di atas adalah tentang penghitungan amal baik dan buruk manusia pada hari perhitungan nanti yang tidak dapat dihindari oleh seorang jiwa pun. Allah SWT seolah ingin mengingatkan pada manusia saat ini bahwa bencana alam adalah salah satu “early warning” akan kepastian terjadinya hari perhitungan amal manusia.

Marilah sejenak kita putar lagi memori perjalanan hidup setahun ini Jika kedapatan amal baik yang menurut kita sudah lumayan banyaknya, maka harus menjadi tonggak untuk terus menerus lebih baik hingga ajal menjemput kita sekaligus memohon ampun pada Sang Gaffar (Maha Pengampun) kalau-kalau ada amalan yang terlalaikan. Tapi jika ternyata hasil introspeksi kita mendapatkan  keburukan yang banyaklah yang telah kita perbuat, maka sudah selayaknya pula bagi kita untuk segera memperbaiki sambil secara terus-menerus bertobat dan mohon ampun kepada Allah SWT.

Melalui semangat hijrah mari kita tanyakan pada diri kita, misalnya dengan pertanyaan, sudahkan kita shalat dengan baik dan benar sesuai syariat ?. Atau jangan-jangan shalat kita masih “belang blentong”, kadang shalat kadang tidak. Apakah pula kita termasuk orang yang dermawan, yang rajin bersedekah membantu janda dan fakir miskin serta anak yatim? Atau justru kita membiarkannya. Atau kadang-kadang kita juga malas menyumbang untuk pembangunan masjid di kampung kita. Kita biarkan orang yang dalam keadaan kesulitan ekonomi, kelaparan, gizi buruk dan busung lapar. Hati-hati bagi para pemegang jabatan dan kekuasaan. Pengabaian terhadap nasib rakyat yang dipimpinnya akan berujung pada kebinasaan yang kekal.

Jangan anggap sepele amalan buruk dan maksiat yang remeh temeh, karena bagi Allah tak ada yang luput dari perhitungan sekalipun sekecil atom ukuran perbuatan kita. Begitupun terhadap amal baik yang ringan, jangan segan-segan untuk segera kita tunaikan karena nilainya pun tetap dihitung berlipat-lipat banyaknya.

Kini saatnya pula kita harus berpindah atau berhijrah dari black area ke white area/ dark zone to light zone, dari wilayah hitam yang gelap gulita ke wilayah putih yang terang benderang (minazzulumat ilaa nuur). Mengubah perangai, tingkah laku dan ucapan kita dari perangai, tingkah laku dan ucapan yang buruk-buruk (maksadat) menjadi perangai, tingkah laku dan ucapan yang baik-baik (hasanat).

Kita ubah akhlak tercela (majmumah) yang sering menjadi ciri khas kita menjadi akhlaq terpuji (mahmudah) yang senantiasa menghiasi kepribadian kita . Dan tidak pandang bulu, apakah hal-hal yang sepele, sedang atau hal yang besar, semua harus mengalami reformasi total. Reformasi ibadah, reformasi lisan, dan juga refomasi akhlaq. Menata ulang hubungan baik kita dengan Sang Khaliq melalui peningkatan ibadah magdhoh (yang sudah baku aturannya) dan ibadah ghoiru maghdhoh (yang flesible). Mengharmoniskan kembali interaksi kita dengan sesama manusia melalui muamalah-muamalah penuh manfaat. Meningkatkan ketaqwaan kepada Rabbul Izzati dan menyebarkan rahmat bagi sekalian alam dengan cinta dan kasih sayang.

Semangat hijrah bukanlah monopoli individu saja. Dia bisa ditularkan kepada orang lain yang sementara ragu-ragu dan berat untuk melangkah menuju ridho dan ampunan Ilahi. Kita dapat membantu menghijrahkan saudara kita seiman menuju jalan yang lurus dan kepada kebahagiaan hakiki. Mungkin saudara kita mengalami hambatan yang sulit baginya untuk terbebas. Lingkungan, keluarga, teman dekat, kekasih atau tradisi terkadang sangat sulit untuk diterabas.

Dan introspeksi atau muhasabah, sejatinya tidak perlu menunggu peristiwa pergantian tahun tiba karena tidak ada jaminan nyawa kita masih bersemayam di tubuh yang fana ini hingga tanggal 1 Muharram mendatang. Ulama-ulama akhlaq sering menasehati ummat untuk senantiasa bermuhasabah setiap hari (muhasabah yaumiyah) sebelum berangkat tidur sambil istighfar serta bertekad untuk memperbaiki diri pada esok hari.

Kambali mengengok bancana alam yang lalu. Seharusnya sudah lebih dari cukup kita belajar atau berkaca dari aneka bencana yang menyapa bangsa kita tanpa pernah jemu. Orang-orang yang masih mampu berpikir atau masih dapat mengoptimalkan fungsi akalnya dengan baik mengenai kejadian-kejadian di sekelilingnya sebagaimana termaktub di berbagai surat Alquran, pasti akan merenung akan eksitensi kekuatan Yang Maha Besar. Kekuatan yang tak akan pernah tertandingi hingga kapanpun dan oleh siapa pun sehingga manusia harus bertekuk lutut di hadapan Kekuatan tersebut. Kekuatan yang mampu memaksa manusia untuk mengakui keteledoran dan kekhilafannya sehingga tersungkur memohon ampunan.

Namun jika manusia sama sekali tidak dapat mengambil hikmah dari semua yang tampak di hadapannya, maka berarti manusia yang demkian mengalami gangguan penglihatan hati atau hatinya telah keras membatu sehingga diberi peringatan atau pun tidak, ia akan sama saja.

Akhirnya, mari kita sama-sama mereview perjalanan hidup kita sepanjang tahun 1431 H ini untuk selanjutnya kita perbaiki iman yang mungkin mengalami aus/rusak ke bengkel ruhani terdekat (seperti masjid, majlis taklim, dan majlis zikir). Mari kita tata ulang langkah-langkah kita ke depan dengan cermat dan teliti. Tatap masa depan di tahun 1432 H dengan semangat reformasi total tanpa basa basi.

Tidak perlu lips servis dengan mengatakan saya akan ini, saya akan itu, saya akan begini dan begitu di hadapan orang lain, langsung saja GO ACT TO REFORM. Tak usah peduli dengan cibiran orang sekitar yang bertahan di area gelap, tidak perlu malu dengan pandangan miring teman-teman yang nyaman dalam keburukan, tidak perlu khawatir akan kehilangan popularitas dan komunitas dalam memegang prinsip kebenaran. Letakkan niat berhijrah dengan mengharapkan ridho Allah SWT di atas segalanya sebagaimana pesan Rasul SAW :

“Dari Umar bin Khattab : aku mendengar Rasul saw bersabda : sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dari niatnya. Dan segala  urusannya bagaimana niatnya. Barang siapa yang HIJRAH karena ALLAH & RASULNYA, maka ia HIJRAH karena ALLAH & RASULNYA, dan barang siapa yang HIJRAHNYA karena dunia yang diinginkan serta wanita yang hendak dinikahinya, maka HIJRAHNYA karena kedua hal itu”.(HR. Bukhori & Muslim) .

Kita sambut kehadiran tahun baru dengan memenuhi masjid-masjid atau majlis-majlis zikir dimana saat itu kita dapat melakukan kontemplasi secara berjamaah. Kita hanyutkan jiwa kita bersama lantunan zikir dan doa yang panjang penuh khusyu’ dan khudu’. Kita biarkan air mata penyesalan dan rasa takut mengalir deras membasahi kedua pipi, karena boleh jadi air mata yang mengalir itu adalah bagian dari rahmat dan maghfirah-Nya.

Tidak perlu kita meniru-niru gaya orang lain saat menyambut pergantian tahun dengan cara-cara mubazir dan maksiat. Tiada guna menyambut tahun baru dengan hura-hura dan foya-foya. Kalau itu yang dilakukan, di mana semangat hijrah mau digelorakan?

SELAMAT TAHUN BARU HIRIYAH 1 MUHARRAM 1432 H

Kamis, 25 November 2010

IBADAH QURBAN MANGIKIS SIFAT KIKIR DAN SERAKAH


oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado



SESUNGGUHNYA MANUSIA DICIPTAKAN BERSIFAT KELUH KESAH LAGI KIKIR . (QS. Al Ma’arij : 19)

Tepatnya tanggal 10 Zulhijjah 1431 H lalu, setidaknya seperempat penduduk dunia dengan identitas muslim sama-sama merayakan Idul Adha atau dikenal dengan Hari Raya Qurban. Tanggal 10 Zulhijjah juga menjadi tanda dari puncak pelaksanaan Ibadah Haji di Padang Arafah berupa Wukuf bagi saudara-saudara seiman yang tengah menyempurnakan Rukun Islam kelima.
Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa di dalam dirinya melekat sifat hakiki yang menjadi pelengkap kejadiannya, yakni kikir. Dalam pengeritan bahasa Arab biasa disebut bakhil. Sifat kikir adalah sifat negative yang senantiasa berseamayam sepanjang hidup seorang manusia. Tabiat kikir adalah tabiat yang menunjukkan sifat egois, mau menang sendiri tanpa mau berbagi dengan sesamanya. Dan sifat kikir berbanding lurus dengan sifat serakah.
Praktek monopoli dengan menguasai pasar, mengkavling sumber daya, menimbun barang kebutuhan pokok untuk mengeruk keuntungan sebasar-besarnya di saat tertentu, merampas hak orang lain, memangkas dana bantuan sosial demi kesenangan pribadi, memotong subsidi program kesejahteraan rakyat dan segala bentuk keculasan lainnya, tak lain berangkat dari sifat kikir dan serakah.

Kewajiban Qurban
Allah SWT sebagai pencipta Tunggal atas manusia yang telah melengkapinya dengan sifat kikir, tentunya juga menawarkan kepada manusia akan suatu perangkat penjinaknya yang dikemas dalam wujud kewajiban.
Bukan sekedar zakat yang ditawarkan oleh Allah SWT dalam rangka mengikis sifat kikir yang ada pada diri manusia, yang mana zakat ini menjadi bukti kesalehan sosial seseorang setelah menghamba kepada Khaliqnya secara vertikal, tetapi juga bagi orang yang memiliki harta melebihi dari keperluannya diperintahkan pula untuk berqurban. Dalam Al Quran Surat Al Kautsar Allah SWT memerintah kita untuk mendirikan shalat dan berqurban. Ibadah Shalat harus membawa atsar atau bekas berupa kepedulian seseorang terhadap lingkungannya dan salah satu wajudnya adalah berqurban hewan sembelihan.
Syariat Qurban berangkat dari kisah klasik sebuah keluarga agung ribuan tahun lampau, pada awalnya menyuratkan gambaran tentang upaya Tuhan menguji akan ketulusan cinta hamba pada-Nya. Cinta yang akhirnya terbukti dengan kesediaan sang hamba menuruti segala perintah-Nya, sekalipun dinilai sangat tidak rasional. Perintah mengorbankan anak muda belia untuk disembelih jelas sulit untuk diterima nalar manusia saat itu. Apalagi pemuda belia yang dimaksud telah lama dinantikan kelahirannya setelah kurang lebih 80 tahun lamanya bahkan memaksa sang bapak yang tua itu untuk berpoligami supaya terjadi regenerasi yang dapat melanjutkan estafet perjuangan dakwahnya.
Selanjutnya, peristiwa Qurban adalah salah satu cara Allah SWT mendidik keluarga tersebut (yang kita kenal dengan keluarga Nabi Ibrahim beserta istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail) untuk berlaku ihsan kepada sesama manusia. Berbagi rasa dengan menikmati karunia Allah SWT secara berjama’ah.
Pemotongan hewan Qurban oleh kaum muslimin yang mampu untuk dibagikan kepada para fakir miskin di kalangan umat, jelas mengharuskannya senantiasa mengikis sifat-sifat kikir dan serakah yang tertanam dalam dirinya. Dengan seringnya berqurban maka seseorang telah berupaya mencegah kekikiran menguasai kepribadiannya. Membabat habis keengganan untuk bersedekah dan membantu orang lain. Belumlah cukup bagi orang yang kaya jika ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan hanya mengandalkan pada ibadah shalat, wirid dan zikir tanpa berlaku baik kepada sesama manusia.
Di dalam sabdanya Rasul saw menyatakan, “tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mempedulikan saudaranya”. Pengejawantahan nilai-nilai ubudiyah / laku ibadah sekali pun, kurang cukup berarti jika tidak dibarengi dengan kesalehan terhadap orang lain. Bahkan seorang hamba Allah berpotensi gagal langsung masuk ke surga lantaran sikap sosialnya yang buruk dan kurang peduli dengan sesama. Masa bodoh dan acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain sungguh menggambarkan kondisi keimanan yang belum solid.
Semangat berqurban sangat relevan dengan kondisi bangsa kita yang tengah dirundung malang lantaran terlalu sering diterpa musibah bencana alam yang datang silih berganti dari belahan timur nusantara hingga ke baratnya, dari banjir, gempa hingga erupsi gunung berapi.
Kemauan berqurban menyisihkan sebagian harta atau tenaga dan pikiran akan sangat membantu meringankan beban hidup saudara-saudara kita yang sehari-hari tinggal di barak-barak pengungsian, yang jauh dari kondisi ideal. Hidup dengan ancaman kekurangan makan, kedinginan, penyakit menular pernapasan, dan kondisi tak nyaman lainnya sebagaimana mereka rasakan pada saat sebelum bencana terjadi.
Qurban adalah symbol kebersamaan dan refleksi empati yang dalam sebagaimana hadits nabi saw : “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaihdari al-Nu’man bin Basyir). Penderitaan saudara-saudara kita hakekatnya penderitaan kita juga.
Di tanah air kita Indonesia khususnya, perayaan Qurban yang penuh dengan nilai-nilai sosial setidaknya terbukti menjadikan sebagian besar anak bangsa terbiasa dengan aura / suasana berqurban untuk spontan bahu membahu mengulurkan bantuan kemanusiaan di daerah-daerah bencana. Rela mengorbankan barang berharga yang sangat dicintai, rela mengorbankan harta benda yang telah lama ditabung, dan rela menyisihkan penghasilan yang sering tak banyak jumlahnya.
Akhirnya melalui semangat Ibadah Qurban, mari kita tingkatkan solidaritas sosial. Kikis habis segala sifat-sifat kikir yang menggoda hati kita, yang sering membuat kita urung membantu sesama bahkan sering menguasai diri kita dan mendorong untuk berlaku serakah terhadap orang lain.

                                                                                               

Menggapai Kesolehan Sosial Dengan Ibadah Qurban

  Menggapai Kesolehan Sosial Dengan Ibadah Qurban


 oleh : Djunaedi, S.Pd.I

Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado

 

 

Ummat Islam telah melaksanakan Idul Qurban selama kurang lebih 1400 tahun hingga kini. Untuk tahun 1431 H pelaksanaan Idul Adha nama lain Hari Raya Qurban tinggal 3 atau 4 hari lagi. Ritual Qurban adalah merupakan napak tilas dari sejarah suci keluarga yang dimuliakan Allah SWT.

Suatu ketika seorang lelaki tua tersentak bangun dari tidurnya setelah bermimpi sesuatu yang aneh. Dalam mimpinya lelaki tersebut tampak sedang melakukan prosesi penyembelihan anak muda yang masih belia dan tak lain putranya sendiri. Sempat termenung ia dan lebih memilih untuk tidak peduli.

Dia kaget lagi, mimpi pada malam sebelumnya terulang kembali. Mata bashiroh keimanannya mengatakan ini bukan mimpi biasa. Sebagai seorang yang sangat sensitive terhadap wahyu Ilahi dan memiliki insting kenabian tentu berpikir bahwa mimpinya mungkin perintah Allah SWT. Keyakinannya belum terlalu kuat.

Esoknya, di saat tidur ternyata kembali ia bermimpi hal yang sama. Setelah bermunajat kepada Tuhannya, ia pun yakin bahwa kembang tidur yang mengiringinya dalam tidur sekaligus memang benar-benar Perintah Allah SWT untuk mengorbankan seseorang yang sangat dicintai dan dirindukan kehadirannya sejak 80 tahun silam.

Lelaki tua yang selanjutnya kita pahami sebagai Nabi Ibrahim ini dengan sikap demokratis memanggil anaknya untuk berdiskusi membicarakan masalah yang tengah dihadapinya. Dengan gaya kebapakan nan bijak diserulah anaknya dengan kalimat pilihan dan dengan redaksi yang mantap.

Sejurus setelah selesai Nabi Ibrahim menyampaikan apa yang ia alami, Nabi Ismail memberikan tanggapan yang sangat sulit dicari tandingannya hatta jaman sekarang ini. Ya Bapak jika memang benar mimpi yang bapak alami adalah perintah dari Allah, maka laksanakanlah dan semoga kita termasuk orang-orang yang sabar. Timbulah perasaan syukur dan kagum pada diri Nabi Ibrahim akan jawaban monumental putranya. Sulit dibayangkan jika pertanyaan dengan kasus serupa diajukan kepada generasi sekarang ini.

Dan Ismail tidak terlahir dari ibu yang cacat akhlak dan keimanannya. Ismail dididik oleh bapak yang telah teruji kecintaannya kepada Ilahi Rabbi. Ismail adalah mantan bayi yang pernah hidup bersama sang bunda menantang ganasnya padang pasir ditinggal berdakwah sang ayah ke tanah Palestina. Intimidasi syetan yang menakut-nakutinya supaya urung menyambut seruan Ilahi berupa perintah penyembelihan dirinya dia lawan sekuat tenaga. Sekali perintah Allah diseur sekali pula ia laksanakan.

Siti Hajar adalah wanita tegar, juga tak terbantahkan kualitas imannya. Bersama Ismail yang masih merah ia ditinggal di padang sahara sebatang kara, tanpa bekal memadai mengurus si jabang bayi demi menjalankan titah Allah Yang Maha Perkasa. Cuma tawakkal dan optimis terhadap pertolongan Allahlah yang menemani keberaniannya untuk ditinggal jauh sang suami.  Berjuang tiada henti menjemput asa keberadaan sumber air demi memenuhi tenggorokan yang kering bagi diri dan buah hati. Detepislah keraguan hasil bisikan dan godaan syetan yang menyamar untuk menggoyahkan hatinya saat kabar perintah penyembelihan anaknya oleh suaminya. Demi Allah apa pun ia siap korbankan.

Saat-saat yang genting telah tiba, di sebuah bukit telah terbaring pemuda Ismail dengan mata tertutup dan tangan kaki terikat kuat di atas batu. Sementara sebilah pedang tajam terhunus di tangan kanan sang Khalilullah Ibrahim a.s siap memisahkan kepala dan badan putranya tercinta. Dengan kepasrahan yang dalam dan hati yang ngilu Ibrahim memalingkan wajahnya ke kanan tak tahan menyaksikan apa yang akan terjadi, dan “Bismillahir Rahmaanir Rohiim” disembelihlah leher putranya lalu kemudian ……. Suaru domba mengembik menahan sakit dan darah muncrat mengenai lengan dan pakaian Ibrahim. ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD.

Allah ganti Ismail dengan seekor domba gemuk sebagai balasan bagi orang-orang yang sabar menjalankan perintah-Nya tanpa banyak bertanya. Kecintaan keluarga mulia Ibrahim as bersama istri dan anaknya kepada Allah SWT luar biasa besarnya. Coban demi cobaan mereka lalui dengan tawakkal dan keimanan. Hanya satu yang keluar dari mulut mereka saat Allah memberi perintah, “Sami’na wa atho’na”.

Fragmen sejarah yang diabadikan oleh Rasul saw sebagai ibadah tahunan atau hari raya umat Islam dan bergandengan dengan ibadah Haji mengandung banyak hikmah yang dalam dan tak akan habis untuk digali, amat sempurna dan amat sulit untuk dicarikan cacatnya. Setiap idul Adha semua ummat Islam yang mampu diwajibkan berqurban sebagai bentuk sikap sosial yang adiluhung terhadap orang yang miskin dan kesusahan. Berkorban untuk kemaslahatan ummat, itulah inti dari ajaran Qurban nabiyallah Ibrahim a.s.

Di sisi lain kita dapat mengambil ibroh tentang pola asuh dan pendidikan yang diterapkan oleh Ibrahim kepada keluarganya sungguh luar biasa sukses. Kita sebagai ummat Muhammad saw melalui teladan keluarga Ibrahim harus menjadikan pendidikan terhadap keluarga di atas segala-galanya. Dengan pendidikan akan dapat dihasilkan keturunan yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT dan Dia akan terus dijadikan tujuan hidupnya.

Kita bentengi keluarga kita dari pengaruh negative yang ada di luar rumah atau di rumah sendiri yang biasanya bisa masuk lewat media televisi dna internet serta majalah-majalah atau buku-buku. Tanmkah nilai-nilai aqidah yang kuat pada diri anak dan biasakan menerapkan akhlaqul karimah sejak dini serta diajar cara bergaul dan berpaikaian islami.

Sebenarnya tidak cukup di kesempatan yang terbatas ini mengupas hikmah-hikmah sejarah nabi Ibrahim yang berkaitan dengan ibadah agung ini, Qurban. Banyak sisi-sisi baik yang kita ambil hikmahnya untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ibrahim juga disebut bapak para Nabi karena dari beliau akan lahir keturunan dengan status nabi-nabi baik dari garis Siti Hajar dan anaknya Ismail a.s maupun Siti Sarah dengan anaknya Ishaq a.s (Israel). Peninggalannya yang akan runtuh pada saat terjadinya kiamat adalah barupa bangunan persegi empat, yakni Baitullah dan akan terus dikunjungi oleh ummat Islam di seluruh dunia walaupun sudah milyaran manusia yang berkunjung sebelumnya sejak wafatnya beliau. Fakta ini sudah ditaqdirkan oleh pemilik Baitullah (Allah) sebagai jawaban atas do’anya yang mengjharapkan kemakmuran negeri mekkah.

Jumat, 05 November 2010

TAHUN 2020 JUMLAH TUNA NETRA DUNIA MENJADI 2X LIPAT


Oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada Panti Sosial Bina Netra Tumou Tou Manado

Badan kesehatan dunia WHO merillis data bahwa setidaknya ada 40 – 45 juta penderita kebutaan (cacat netra)/gangguan penglihatan. Pertahunnya tak kurang dari 7 juta orang mengalami kebutaan atau permenitnya terdapat satu pentuduk bumi menjadi buta dan perorang mengalami kebutaan perduabelas menit dan ironisnya, lagi-lagi wilayah dan negara miskinlah yang kebanyakan penduduknya mengalami kebutaan dan gangguan penglihatan, yaitu sekitar 90%.
Dan jika kondisi ini dibiarkan tanpa aksi yang nyata maka WHO memperhitungkan pada tahun 2020 mendatang, kelak jumlah penduduk dunia yang buta akan mencapai 2 kali lipat, kira-kira 80 – 90 juta orang.
Melalui peringatan World Sight Day yang jatuh tanggal 14 Oktober baru lalu WHO mencanangkan tema Count Down 2020 menjadi tonggak harapan dan cita-cita organisasi internasional itu untuk mengupayakan penduduk dunia dapat terhindar dari masalah kebutaan dan gangguan penglihatan serta memperoleh penglihatan yang optimal.
Hak untuk melihat secara optimal tanpa gangguan penglihatan adalah Hak Asasi Manusia yang harus dijamin dan sejalan dengan Delaration of Human Right. Maka dari itulah berdasarkan fakta yang memperlihatkan bahwa 75% kebutaan termasuk kategori Avoidable Blindness (kebutaan yang sebenarnya dapat dihindarkan), maka muncullah program Vision 2020 : Right to Sight.
Saat ini ada Sembilan penyakit mata utama yang merupakan avoidable blindness, yakni katarak, trakom, onkosersiasis, kebutaan pada anak, kelainan tajam penglihatan, low vision, glaucoma, retinopati diabetika, dan age related macular degeneration (ARMD).
Dan Indonesia adalah salah satu dari 40 negara yang menandatangani resolusi WHA56.26, “Elimination of Avoidable Blindness” yang dihasilkan dari komitmen kuat Negara-negara peserta World Health Assembly ke-56 yang berlangsung tahun 2003 silam, menuju Vision 2020.
Kasus Indonesia
Survey Indra Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993 – 1996 menunjukkan angka kebutaan di Indonesia 1,5%-paling tinggi di Asia - dibandingkan dengan Bangladesh 1%, India 0,7%, dan Thailand 0,3%. Artinya jika ada 12 penduduk dunia buta dalam setiap 1 jam, empat di antaranya berasal dari Asia Tenggara dan dipastikan 1 orangnya dari Indonesia. Survey ini juga diaminkan oleh Direktur Jenderal Bina Kesmas Kementerian Kesehatan RI, Budihardja. Kebutaan pada usia senja yang rentan terkena katarak sebagai penyebab 75% kebutaan, kini menjadi ancaman yang pelik bagi negera kita. Biro Pusat Statistik melaporkan bahwa pada tahun 2025 penduduk usia lanjut meningkat menjadi 414 % dibandingkan dengan tahun 1990. Dan masyarakat Indonesia berkecenderungan menderita 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah subtropis.
Tapi bagi penduduk dengan usia relatife muda tidak bisa terlalu gembira mengingat data yang disuguhkan oleh Hellen Keller Internasional cukup mengkhawatirkan. Dalam laporannya disebutkan bahwa di beberapa daerah kumuh perkotaan yang tersebar di wilayah Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta tahun 1998 menunjukkan hampir 10 juta balita mengalami avitominasis A. Data lain menunjukkan 10% dari 66 juta anak sekolah di Indonesia mengalami kelainan refraksi (rabun jauh) dan dimungkinkan mereka akan menjadi generasi muda Indonesia dengan kualitas hidup dan intelektual yang rendah,
Kebutaan dan gangguan penglihatan tidak hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat dan negara artinya rendahnya produktivitas orang dengan kecacatannya (tuna netra) jelas berdampak negatif kepada pendapatan (income) yang optimal dari suatu keluarga dan kemudian suatu daerah tempat tinggalnya. Mobilitas mereka yang rendah di lain pihak menjadi tanggungan orang yang melihat untuk membantu bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain sehingga produktifitas orang yang melihat pun menjadi terganggu pula.
Upaya pemerintah
Kementerian kesehatan RI berupaya untuk menghapus kebutaan di Indonesia melalui program Vision 2010 : Right to Sight yang sejiwa dengan semangat Badan Kesehatan Dunia WHO. Sebelumnya mantan Presiden RI ke-5 Megawati Sukarno Putri pada tahun 2000; tepatnya tanggal 15 Februari, mencanangkan program Vision 2020 Rigt to Sight dengan target bahwa angka kebutaan tahun 2005 turun menjadi 1,2%, tahun 2010 menjadi 1% dan 0,5% di tahun 2020.
Sementara Kementerian Kesehatan RI berupaya menangani penyandang cacat netra secara klinis, Kementerian Sosial RI juga turun tangan melakukan upaya rehabilitasi atau pembinaan para penca netra supaya mereka dapat menjalani hidup mandiri tanpa tergantung orang lain dan selanjutnya dapat lebih produktif sehingga mengurangi beban keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendirian Unit  Pelayanan Teknis khusus tuna netra  oleh Kemensos di beberapa daerah (Jawa, Sulawesi dan Bali) diharapkan mampu membantu percepatan program Visi 2010 yang dicanangkan oleh pemerintah tahun 2000 lalu. Artinya kemensos tidak dalam rangka menekan angka populasi penduduk dengan cacat netra di masa mendatang, namun lebih pada penanganan penyandang cacat netra supaya keluar dari kelompok Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.

Ayo kita cegah kebutaan.
Pola hidup yang kurang tepat sehari-hari dalam memperlakukan mata atau menggunakan mata, berpotensi menyebabkan kelainan mata di suatu waktu. Kalau data di atas menegaskan bahwa kebutaan yang dialami penduduk dunia termasuk kategori Avoidable Blindness, berarti sejak dini semestinya kita secara pribadi atau keluarga dapat berupaya mencegah segala faktor-faktor penyebab kelainan mata.
Ada beberapa tips yang dapat dipraktekan dalam keseharian kita sebagaimana yang sering disampaikan oleh para ahli mata di berbagai mass media berformat artikel, hasil penelitian ilmiah, iklan produk kesehatan atau penyuluhan kesehatan di rumah-rumah sakit atau Puskesmas supaya kita dapat terhindar dari kesuakan mata yang permanen atau akut.
A.     Asupan
Sudah umum diketahui bahwa makanan yang mengandung vitamin A dan betakaroten sangat baik untuk kesehatan mata. Oleh karena itu bagi ibu-ibu yang baru memiliki bayi atau balita harus mengupayakan ketersediaan makanan yang kaya dengan vitamin A. Pada ikan, buah-buahan dan sayuran banyak didapati kandungan vitamin A.
Suplemen Herbal berbahan Jintan Hitam (Habbatussauda : Bhs. Arab; Nigella Sativa : Bhs. Latin) yang sangat disarankan oleh Nabi Muhammad saw empat belas abad lampau terbukti sangat kaya dengan betakaroten. Suplemen ini cukup aman dikonsumsi oleh ibu menyusui dan anak-anak.
B.      Perilaku
Kebiasaan buruk saat membaca, menonton tv atau menatap layar monitor komputer/laptop dapat menyebabkan mata akhirnya menjadi sakit. Supaya mata kita tetap sehat lakukan hal-hal berikut :
1.      Beristirahatlah selama 5 hingga 10 menit setelah kurang lebih 2 jam mata kita berlelah-lelah menatap monitor atau buku. Untuk computer jelas ada sinar radiasi yang memapar mata dengan intensitas warnanya yang tidak stabil. Saat anda istirahat alihkan pandangan ke aarah lain, syukur syukur jika ada pemandangan alam berupa hijau daun pepohonan. Berkedip-kediplah untuk melumaskan mata yang lelah. Bahkan sekarang sudah ditemukan senam mata. Caranya dengan melirik dari kanan ke kiri dan sebaliknya, dari atas ke bawah dan sebaliknya, berputar dari kanan ke kiri dan sebaliknya, serta diagonal dari kanan ke kiri dan sebaliknya, masing-masing sekitar 5 hingga 10 kali.
2.      Saat membaca buku hindari tempat yang remang-remang. Jangan membaca dalam posisi tidur terlentang atau telungkup. Jarak mata ke buku minimal 30 cm. Sebaiknya bacalah buku dengan ukuran font yang tidak terlalu kecil karena itu akan membuat kerja mata kita menjadi lebih ekstra. Dan jarak yang aman saat di depan monitor tv kurang lebih 5x diagonal layar monitor itu. Jarak 30 – 40 cm dinilai aman saat di depan monitor computer dan posisi bagian atas layar sesuai dengan ketinggian bola mata, minimal sedikit di bawah batas mata. Layar tv dan computer biasanya dilengkapi dengan pengatur pencahayaan. Aturlah cahaya monitor hingga sedang dan tidak terlalu terang atau patokannya adalah kenyamanan mata kita. Di masa kini sudah banyak produk tv dan monitor computer berjenis LCD. Jika kita memiliki dana, akan lebih baik kita gunakan monitor LCD yang memang radiasinya lebih rendah daripada monitor CRT (masih menggunakan tabung).
3.      Pencahayaan ruang baca dan ruang computer sebaiknya diatur. Di samping menggunakan lampu dengan daya yang menghasilkan cahaya terang juga letaknya sebaiknya tepat di atas kepala atau sedikit di belakang kepala kita, sehingga intensitas cahaya cukup memadai.
4.      Kontaminasi partikel debu atau kotoran pada mata kita dapat menimbulkan gangguan penglihatan bahkan dapat menyebabkan katarak mata. Bagi kita yang suka bepergian dengan menggunakan sepeda motor, apalagi di daerah perkotaan yang tingkat polusinya tinggi, gunakanlah helm standar yang dilengkapi kaca penutup. Jika hanya helm biasa, maka kenakanlah kaca mata pelindung. UU no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mensyaratkan pengguna kendaraan bermotor untuk memakai helm bersertifikat SNI karena di samping kepala aman dari benturan terhadap berbagai benda keras, juga dapat mencegah mata dari masuknya debu jalanan. Jika sudah terlanjur terkontaminasi debu lalu terasa gatal, jangan dikucek dan segera gunakan tetes mata pembersih yang aman. Jika iritasi masih berlanjut setelah dua atau tiga kali tetes, tidak ada jalan lain kecuali harus ke dokter mata.
5.      Memeriksakan mata kita secara periodic juga turut membantu pencegahan terhadap kemungkinan resiko sakit mata. Frekuensi yang baik adalah satu kali dalam enam bulan. Unsur-unsur yang diperiksa biasanya ketajaman penglihatan dan tekanan bola mata.

Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Kita sudah mahfum dengan slogan tersebut. Keluarga sebagai unit terkecil dari suatu bangsa harus turut andil dalam upaya pencegahan kebutaan pada taraf yang mudah dilakukan sebagaimana tips-tips di atas. Jika kita masuk dalam kelompok yang kurang suka dengah hal-hal bersifat patriotic (untuk kepentingan bangsa atau kemanusiaan), maka mencegah kelainan dan gangguan penglihatan jelas bermanfaat untuk masa depan penglihatan kita dan keluarga kita sendiri. Namun berbahagilah orang-orang yang berjiwa patriot yang senantiasa jiwanya terpanggil untuk melakukan AKSI demi kepentingan kemanusiaan dengan hal-hal yang kecil sekalipun, dalam rangka MENCEGAH KEBUTAAN BANGSA DAN DUNIA.
Selamat memperingati World Sigth Day, Railhlah Vision 2020, Right to Sight Indonesiaku.

(Sumber data statistik : Laporan HU. Kompas edisi 2, 19, & 20 Oktober 2010)

Jumat, 29 Oktober 2010

DEMONSTRASI EKSPRESI PENCA NETRA

Oleh : Djunaedi, S.Pd.I


Lagu tradisional Minahasa berjudul Ampuruk yang menggambarkan tentang pengalaman melihat keindahan alam dari puncak gunung mengalun merdu dari alat musik tradisional Kolintang yang dimainkan oleh para penyandang cacat netra. Ampuruk, menjadi awal penampilan inti dari Kegiatan bertajuk Malam Ekspresi Tuna Netra, Sabtu 16 Oktober 2010, di Manado. Malam ekspresi tuna netra merupakan bentuk Demo para tuna netra dalam kemahiran memainkan alat musik tradisional.
Para audiens yang memadati Ruang restoran Big Fish sebagai tempat terselenggaranya acara; sangat terkesan dan larut dalam suasana gembira menyaksikan penampilan apik para tuna netra yang piawai memukulkan.
stick pada bilah-bilah kayu kolintang dan juga sukses membawakan lima buah lagu tanpa kekeliruan.
Apalagi setelah penampilan kolintang deteruskan dengan demo alat musik harmoniika sisir dengan membawakan lagu-lagu pop daerah seperti Torang samua basudara. Melalui lagu ini mereka ingin menegaskan bahwa semua yang hadir di tempat itu khususnya dan masyarakat manado umumnya adalah baku saudara, baku sayang, dan baku bae sekalipun ada perbedaan suku, agama, status sosial bahkan kondisi tubuh yang normal ataupun cacat.
Kegiatan malam ekepresi tuna netra merupakan hasil kerja sama antara beberapa siswa PSBN Tumou Tou Manado, Yayasan SLB Borthemeus, dan eks penerima manfaat PSBN Tumou Tou Manado yang tergabung dalam organisasi PERTUNI Sulawesi Utara. Kegiatan malam ekspresi tuna netra yang berlangsung dari jam 20.00 s.d jam 22.00 WITA dikemas dengan sedikit formal, karena secara keseluruhan dimulai dengan menyanyikan lagu Hymne PERTUNI dan sambutan Ketua PERTUNI SULUT Cynthia Montolalu (tuna netra berstatus PSN Pemkot Manado).
Hadir dalam kesempatan itu adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prop. Sulut DR. Drh. F D. Rotinsulu yang mewakili kehadiran Gubernur Sulut SH. Sarundajang, Pejabat teras Prop. Sulut, tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama dan beberapa tetua adat. Tidak ketinggalan, hadir pula kepala Panti Sosial Bina Netra Tumou Tou Manado Ibu Dra. Kamsiaty Rotty, M.Pd.
Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar), Gubernur SH. Sarundajang intinya sangat mendukung berbagai upaya mempromosikan dan mengangkat budaya lokal melalui alat-alat musk dan lagu-lagu tradisional. Sementara secara pribadi Kadis Budpar merasa sangat kagum dengan penampilan penyandang cacat netra yang mampu menunjukkan kemahiran mereka membawakan alat-alat musik tradisional. Beliau berjanji akan siap menjalin kerja sama dengan PERTUNI dalam usaha memajukan budaya Sulawesi Utara.
Acara malam ekspresi tuna netra yang dikawal oleh MC kawakan Kota Manado Om Kale, menurut ketua panitia Ardin Rahman diadakan dalam rangka penggalangan dana untuk kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan yang direncanakan akan diadakan pada akhir tahun 2010.

Rabu, 20 Oktober 2010

STOP TRAFICKING ANAK DAN PEREMPUAN

Djunaedi, S.Pd.I

Traficking anak dan perempuan atau jual beli manusia dengan berbagai motif belum selesai berlangsung. Data menunjukkan bahwa 150 juta orang diperdagangkan dengan nilai 7 Milyar dollar amerika pertahun. Sedikitnya 700 ribu s.d 1 juta orang di antaranya merupakan perempuan dan anak-anak Indonesia. Tahun 1999 lampau terdapat 1.718 kasus anak dan perempuan diperdagangkan. 1 tahun berikutnya ada 1.683 anak dan perempuan yang diperjualbelikan dengan wilayah persebaran meliputi Jakarta, Medan, Bandung, Padang, Surabaya, Bali dan Makassar. Harian Media Indonesia edisi 26 Februari 2003 melaporkan temuan LSM di Medan bahwa di wilayah Dumai Riau terdapat korban traficking yang akan dijadikan pelacur.
Intinya bahwa traficking itu memang ada dan bukan isapan jempol. Di TV dan Radio sering diberitakan korban-korban traficking. Beberapa orang bersaksi bahwa mereka awalnya diimingi pekerjaan dengan upah yang menggiurkan dan akhirnya dijerumuskan untuk menjadi tenaga parmuseks di tempat-tempat hiburan. Ada juga yang diculik secara paksa dan bahkan ada pula yang dibius terlebih dahulu. Dalam suatu laporan juga mereka tidak hanya diperdagangkan untuk dipekerjakan tetapi juga sering diambil organ-organ tubuhnya untuk diperdagangkan di pasar gelap organ manusia. Dan yang lebih tragis lagi ada orang tua yang rela melepaskan anak-anaknya dengan ditukar sejumlah uang demi menutupi kebutuhan sehari-hari sebagai akibat kondisi ekonomi yang kian terpuruk tiada akhir.
Ini memilukan dan menyayat hati nurani kita sebagai sesama mahluk Tuhan. Orang dewasa dengan segala kerakusannya, menafikkan nuraninya menjual anak-anak dan perempuan untuk dihinakan atau diambil bagian-bagian tubuhnya. Cobalah kita tengok orang-orang tua korban traficking, betapa luar biasa sedih tiada tara mereka ketika buah hati mereka yang mereka lahirkan dan didik sejak kecil dengan segala tetesan keringat dan air mata harus hilang dari sisi mereka tanpa mereka tahu nasibnya. Antara harap dan cemas mereka memikirkan anak-anak mereka sambil berikhtiar semampunya supaya bisa kembali lagi ke pangkuan dan pelukan. Rindu tak terperi harus mereka tanggung bersama linangan air mata dan munajat kepada Sang Khaliq demi keselamatan buah hati.
Saya yakin kita pun tidak pernah terlintas di benak seandainya kita akan mengalami hal semacam mereka, kalau perlu jangan sampai terjadi selamanya. Anak tidak dapat dibayar dengan apapun. Kehadirannya ke muka bumi sangat diharap-harapkan sebagai pengisi kehidupan orang tua atau keluarga yang ideal; ini kalau dibandingkan dengan jutaan pasangan suami istri yang belum dikaruniai keturunan.
Saudaraku ! Mari kita galang kerja sama untuk menghentikan segala bentuk upaya TRAFICKING dengan cara yang cukup simple.
1. beritahu anak kita agar tidak mudah percaya dengan orang lain yang baru dikenal;
2. Wanti-wanti anak untuk lekas pulang setelah selesai jam sekolah/kursus/latihan/pertemuan lainnya;
3. Tingkatkan keamanan lingkungan sekitar bersama masyarakat;
4. Koordinasi dengan aparat keamanan sebagai bentuk pencegahan;
5. Koleksi nomor-nomor telpon atau HP teman-teman anak kita;
6. Catat dan simpan nomor-nomor penting d tempat yang mudah dakses dalam waktu cepat saat darurat;
7. Monitor terus keberadaan anak dengan mengecek melalui HP;
8. Waspadai orang-orang di sektar lingkungan kita yang mencurigakan.

Mari bantu pemerintah selagi kita masih bisa melakukan pencegahan. Masing-masing dengan domainnya. Penindakan, Hukum, dan pengejaran pelaku harus ditangani oleh pemerintah secara serius. Sekali lagi STOP TRAFICKING SEKARANG JUGA !

TRAFICKING ADALAH PERBUDAKAN

oleh : Djunaedi, S.Pd.I


Menurut definisi yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) traficking berarti perekrutan, pengangkutan, pengiriman, atau penerimaan orang dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau jenis paksaan lainnya, penculikan, pemalsuan, penipuan atau penyalahgunaan kekuasaan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau tunjangan dalam mencapai kesepakatan seseorang yang memiliki kendali atas orang lain dengan tujuan eksploitasi. Yang di maksud anak adalah seseorang dengan usia di bawah 18 tahun.
Sementara dalam UU RI no. 21/2007 traficking memiliki makna sebagai segala tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan ,penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dan orang yang memegang kendali atau orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.