Oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada Panti Sosial Bina Netra Tumou
Tou Manado
Badan kesehatan dunia WHO merillis data bahwa setidaknya
ada 40 – 45 juta penderita kebutaan (cacat netra)/gangguan penglihatan.
Pertahunnya tak kurang dari 7 juta orang mengalami kebutaan atau permenitnya
terdapat satu pentuduk bumi menjadi buta dan perorang mengalami kebutaan
perduabelas menit dan ironisnya, lagi-lagi wilayah dan negara miskinlah yang
kebanyakan penduduknya mengalami kebutaan dan gangguan penglihatan, yaitu sekitar
90%.
Dan jika kondisi ini dibiarkan tanpa aksi yang nyata
maka WHO memperhitungkan pada tahun 2020 mendatang, kelak jumlah penduduk dunia
yang buta akan mencapai 2 kali lipat, kira-kira 80 – 90 juta orang.
Melalui peringatan World Sight Day yang jatuh
tanggal 14 Oktober baru lalu WHO mencanangkan tema Count Down 2020 menjadi
tonggak harapan dan cita-cita organisasi internasional itu untuk mengupayakan
penduduk dunia dapat terhindar dari masalah kebutaan dan gangguan penglihatan
serta memperoleh penglihatan yang optimal.
Hak untuk melihat secara optimal tanpa gangguan
penglihatan adalah Hak Asasi Manusia yang harus dijamin dan sejalan dengan
Delaration of Human Right. Maka dari itulah berdasarkan fakta yang memperlihatkan
bahwa 75% kebutaan termasuk kategori Avoidable Blindness (kebutaan yang
sebenarnya dapat dihindarkan), maka muncullah program Vision 2020 : Right to
Sight.
Saat ini ada Sembilan penyakit mata utama yang
merupakan avoidable blindness, yakni katarak, trakom, onkosersiasis, kebutaan
pada anak, kelainan tajam penglihatan, low vision, glaucoma, retinopati
diabetika, dan age related macular degeneration (ARMD).
Dan Indonesia adalah salah satu dari 40 negara yang
menandatangani resolusi WHA56.26, “Elimination of Avoidable Blindness” yang
dihasilkan dari komitmen kuat Negara-negara peserta World Health Assembly ke-56
yang berlangsung tahun 2003 silam, menuju Vision 2020.
Kasus
Indonesia
Survey Indra Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993
– 1996 menunjukkan angka kebutaan di Indonesia 1,5%-paling tinggi di Asia -
dibandingkan dengan Bangladesh 1%, India 0,7%, dan Thailand 0,3%. Artinya jika
ada 12 penduduk dunia buta dalam setiap 1 jam, empat di antaranya berasal dari
Asia Tenggara dan dipastikan 1 orangnya dari Indonesia. Survey ini juga
diaminkan oleh Direktur Jenderal Bina Kesmas Kementerian Kesehatan RI,
Budihardja. Kebutaan pada usia senja yang rentan terkena katarak sebagai
penyebab 75% kebutaan, kini menjadi ancaman yang pelik bagi negera kita. Biro
Pusat Statistik melaporkan bahwa pada tahun 2025 penduduk usia lanjut meningkat
menjadi 414 % dibandingkan dengan tahun 1990. Dan masyarakat Indonesia
berkecenderungan menderita 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di
daerah subtropis.
Tapi bagi penduduk dengan usia relatife muda tidak
bisa terlalu gembira mengingat data yang disuguhkan oleh Hellen Keller
Internasional cukup mengkhawatirkan. Dalam laporannya disebutkan bahwa di
beberapa daerah kumuh perkotaan yang tersebar di wilayah Sumatera Barat, Nusa
Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah,
dan DKI Jakarta tahun 1998 menunjukkan hampir 10 juta balita mengalami
avitominasis A. Data lain menunjukkan 10% dari 66 juta anak sekolah di
Indonesia mengalami kelainan refraksi (rabun jauh) dan dimungkinkan mereka akan
menjadi generasi muda Indonesia dengan kualitas hidup dan intelektual yang
rendah,
Kebutaan
dan gangguan penglihatan tidak hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas,
tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi lingkungan, keluarga,
masyarakat dan negara artinya rendahnya produktivitas orang dengan kecacatannya
(tuna netra) jelas berdampak negatif kepada pendapatan (income) yang optimal
dari suatu keluarga dan kemudian suatu daerah tempat tinggalnya. Mobilitas
mereka yang rendah di lain pihak menjadi tanggungan orang yang melihat untuk
membantu bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari satu kegiatan
ke kegiatan yang lain sehingga produktifitas orang yang melihat pun menjadi
terganggu pula.
Upaya
pemerintah
Kementerian kesehatan RI berupaya untuk menghapus
kebutaan di Indonesia melalui program Vision 2010 : Right to Sight yang sejiwa
dengan semangat Badan Kesehatan Dunia WHO. Sebelumnya mantan Presiden RI ke-5
Megawati Sukarno Putri pada tahun 2000; tepatnya tanggal 15 Februari,
mencanangkan program Vision 2020 Rigt to Sight dengan target bahwa angka
kebutaan tahun 2005 turun menjadi 1,2%, tahun 2010 menjadi 1% dan 0,5% di tahun
2020.
Sementara Kementerian Kesehatan RI berupaya menangani
penyandang cacat netra secara klinis, Kementerian Sosial RI juga turun tangan
melakukan upaya rehabilitasi atau pembinaan para penca netra supaya mereka dapat
menjalani hidup mandiri tanpa tergantung orang lain dan selanjutnya dapat lebih
produktif sehingga mengurangi beban keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Pendirian Unit Pelayanan Teknis khusus
tuna netra oleh Kemensos di beberapa
daerah (Jawa, Sulawesi dan Bali) diharapkan mampu membantu percepatan program
Visi 2010 yang dicanangkan oleh pemerintah tahun 2000 lalu. Artinya kemensos
tidak dalam rangka menekan angka populasi penduduk dengan cacat netra di masa
mendatang, namun lebih pada penanganan penyandang cacat netra supaya keluar
dari kelompok Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.
Ayo kita cegah kebutaan.
Pola hidup yang kurang tepat sehari-hari dalam
memperlakukan mata atau menggunakan mata, berpotensi menyebabkan kelainan mata
di suatu waktu. Kalau data di atas menegaskan bahwa kebutaan yang dialami
penduduk dunia termasuk kategori Avoidable Blindness, berarti sejak dini
semestinya kita secara pribadi atau keluarga dapat berupaya mencegah segala faktor-faktor
penyebab kelainan mata.
Ada beberapa tips yang dapat dipraktekan dalam
keseharian kita sebagaimana yang sering disampaikan oleh para ahli mata di
berbagai mass media berformat artikel, hasil penelitian ilmiah, iklan produk
kesehatan atau penyuluhan kesehatan di rumah-rumah sakit atau Puskesmas supaya
kita dapat terhindar dari kesuakan mata yang permanen atau akut.
A.
Asupan
Sudah umum diketahui bahwa makanan yang mengandung
vitamin A dan betakaroten sangat baik untuk kesehatan mata. Oleh karena itu
bagi ibu-ibu yang baru memiliki bayi atau balita harus mengupayakan ketersediaan
makanan yang kaya dengan vitamin A. Pada ikan, buah-buahan dan sayuran banyak
didapati kandungan vitamin A.
Suplemen Herbal berbahan Jintan Hitam (Habbatussauda : Bhs. Arab; Nigella Sativa : Bhs.
Latin) yang sangat disarankan oleh Nabi Muhammad saw empat belas abad
lampau terbukti sangat kaya dengan betakaroten. Suplemen ini cukup aman
dikonsumsi oleh ibu menyusui dan anak-anak.
B.
Perilaku
Kebiasaan buruk saat membaca, menonton tv atau
menatap layar monitor komputer/laptop dapat menyebabkan mata akhirnya menjadi
sakit. Supaya mata kita tetap sehat lakukan hal-hal berikut :
1.
Beristirahatlah selama
5 hingga 10 menit setelah kurang lebih 2 jam mata kita berlelah-lelah menatap
monitor atau buku. Untuk computer jelas ada sinar radiasi yang memapar mata
dengan intensitas warnanya yang tidak stabil. Saat anda istirahat alihkan
pandangan ke aarah lain, syukur syukur jika ada pemandangan alam berupa hijau
daun pepohonan. Berkedip-kediplah untuk melumaskan mata yang lelah. Bahkan
sekarang sudah ditemukan senam mata. Caranya dengan melirik dari kanan ke kiri
dan sebaliknya, dari atas ke bawah dan sebaliknya, berputar dari kanan ke kiri
dan sebaliknya, serta diagonal dari kanan ke kiri dan sebaliknya, masing-masing
sekitar 5 hingga 10 kali.
2.
Saat membaca
buku hindari tempat yang remang-remang. Jangan membaca dalam posisi tidur
terlentang atau telungkup. Jarak mata ke buku minimal 30 cm. Sebaiknya bacalah
buku dengan ukuran font yang tidak terlalu kecil karena itu akan membuat kerja
mata kita menjadi lebih ekstra. Dan jarak yang aman saat di depan monitor tv kurang
lebih 5x diagonal layar monitor itu. Jarak 30 – 40 cm dinilai aman saat di
depan monitor computer dan posisi bagian atas layar sesuai dengan ketinggian
bola mata, minimal sedikit di bawah batas mata. Layar tv dan computer biasanya dilengkapi
dengan pengatur pencahayaan. Aturlah cahaya monitor hingga sedang dan tidak
terlalu terang atau patokannya adalah kenyamanan mata kita. Di masa kini sudah banyak
produk tv dan monitor computer berjenis LCD. Jika kita memiliki dana, akan
lebih baik kita gunakan monitor LCD yang memang radiasinya lebih rendah
daripada monitor CRT (masih menggunakan tabung).
3.
Pencahayaan
ruang baca dan ruang computer sebaiknya diatur. Di samping menggunakan lampu
dengan daya yang menghasilkan cahaya terang juga letaknya sebaiknya tepat di
atas kepala atau sedikit di belakang kepala kita, sehingga intensitas cahaya
cukup memadai.
4.
Kontaminasi
partikel debu atau kotoran pada mata kita dapat menimbulkan gangguan
penglihatan bahkan dapat menyebabkan katarak mata. Bagi kita yang suka
bepergian dengan menggunakan sepeda motor, apalagi di daerah perkotaan yang
tingkat polusinya tinggi, gunakanlah helm standar yang dilengkapi kaca penutup.
Jika hanya helm biasa, maka kenakanlah kaca mata pelindung. UU no. 22 tahun
2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mensyaratkan pengguna kendaraan
bermotor untuk memakai helm bersertifikat SNI karena di samping kepala aman
dari benturan terhadap berbagai benda keras, juga dapat mencegah mata dari
masuknya debu jalanan. Jika sudah terlanjur terkontaminasi debu lalu terasa
gatal, jangan dikucek dan segera gunakan tetes mata pembersih yang aman. Jika
iritasi masih berlanjut setelah dua atau tiga kali tetes, tidak ada jalan lain
kecuali harus ke dokter mata.
5.
Memeriksakan
mata kita secara periodic juga turut membantu pencegahan terhadap kemungkinan
resiko sakit mata. Frekuensi yang baik adalah satu kali dalam enam bulan.
Unsur-unsur yang diperiksa biasanya ketajaman penglihatan dan tekanan bola
mata.
Mencegah lebih baik daripada
mengobati.
Kita sudah mahfum dengan slogan tersebut. Keluarga
sebagai unit terkecil dari suatu bangsa harus turut andil dalam upaya pencegahan kebutaan pada taraf yang mudah
dilakukan sebagaimana tips-tips di atas. Jika kita masuk dalam kelompok yang
kurang suka dengah hal-hal bersifat patriotic (untuk kepentingan bangsa atau
kemanusiaan), maka mencegah kelainan dan gangguan penglihatan jelas bermanfaat
untuk masa depan penglihatan kita dan keluarga kita sendiri. Namun berbahagilah
orang-orang yang berjiwa patriot yang senantiasa jiwanya terpanggil untuk
melakukan AKSI demi kepentingan kemanusiaan dengan hal-hal yang kecil sekalipun,
dalam rangka MENCEGAH KEBUTAAN BANGSA DAN DUNIA.
Selamat memperingati World Sigth Day, Railhlah Vision 2020,
Right to Sight Indonesiaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar