Djunaedi, S.Pd.I
Traficking anak dan perempuan atau jual beli manusia dengan berbagai motif belum selesai berlangsung. Data menunjukkan bahwa 150 juta orang diperdagangkan dengan nilai 7 Milyar dollar amerika pertahun. Sedikitnya 700 ribu s.d 1 juta orang di antaranya merupakan perempuan dan anak-anak Indonesia. Tahun 1999 lampau terdapat 1.718 kasus anak dan perempuan diperdagangkan. 1 tahun berikutnya ada 1.683 anak dan perempuan yang diperjualbelikan dengan wilayah persebaran meliputi Jakarta, Medan, Bandung, Padang, Surabaya, Bali dan Makassar. Harian Media Indonesia edisi 26 Februari 2003 melaporkan temuan LSM di Medan bahwa di wilayah Dumai Riau terdapat korban traficking yang akan dijadikan pelacur.
Intinya bahwa traficking itu memang ada dan bukan isapan jempol. Di TV dan Radio sering diberitakan korban-korban traficking. Beberapa orang bersaksi bahwa mereka awalnya diimingi pekerjaan dengan upah yang menggiurkan dan akhirnya dijerumuskan untuk menjadi tenaga parmuseks di tempat-tempat hiburan. Ada juga yang diculik secara paksa dan bahkan ada pula yang dibius terlebih dahulu. Dalam suatu laporan juga mereka tidak hanya diperdagangkan untuk dipekerjakan tetapi juga sering diambil organ-organ tubuhnya untuk diperdagangkan di pasar gelap organ manusia. Dan yang lebih tragis lagi ada orang tua yang rela melepaskan anak-anaknya dengan ditukar sejumlah uang demi menutupi kebutuhan sehari-hari sebagai akibat kondisi ekonomi yang kian terpuruk tiada akhir.
Ini memilukan dan menyayat hati nurani kita sebagai sesama mahluk Tuhan. Orang dewasa dengan segala kerakusannya, menafikkan nuraninya menjual anak-anak dan perempuan untuk dihinakan atau diambil bagian-bagian tubuhnya. Cobalah kita tengok orang-orang tua korban traficking, betapa luar biasa sedih tiada tara mereka ketika buah hati mereka yang mereka lahirkan dan didik sejak kecil dengan segala tetesan keringat dan air mata harus hilang dari sisi mereka tanpa mereka tahu nasibnya. Antara harap dan cemas mereka memikirkan anak-anak mereka sambil berikhtiar semampunya supaya bisa kembali lagi ke pangkuan dan pelukan. Rindu tak terperi harus mereka tanggung bersama linangan air mata dan munajat kepada Sang Khaliq demi keselamatan buah hati.
Saya yakin kita pun tidak pernah terlintas di benak seandainya kita akan mengalami hal semacam mereka, kalau perlu jangan sampai terjadi selamanya. Anak tidak dapat dibayar dengan apapun. Kehadirannya ke muka bumi sangat diharap-harapkan sebagai pengisi kehidupan orang tua atau keluarga yang ideal; ini kalau dibandingkan dengan jutaan pasangan suami istri yang belum dikaruniai keturunan.
Saudaraku ! Mari kita galang kerja sama untuk menghentikan segala bentuk upaya TRAFICKING dengan cara yang cukup simple.
1. beritahu anak kita agar tidak mudah percaya dengan orang lain yang baru dikenal;
2. Wanti-wanti anak untuk lekas pulang setelah selesai jam sekolah/kursus/latihan/pertemuan lainnya;
3. Tingkatkan keamanan lingkungan sekitar bersama masyarakat;
4. Koordinasi dengan aparat keamanan sebagai bentuk pencegahan;
5. Koleksi nomor-nomor telpon atau HP teman-teman anak kita;
6. Catat dan simpan nomor-nomor penting d tempat yang mudah dakses dalam waktu cepat saat darurat;
7. Monitor terus keberadaan anak dengan mengecek melalui HP;
8. Waspadai orang-orang di sektar lingkungan kita yang mencurigakan.
Mari bantu pemerintah selagi kita masih bisa melakukan pencegahan. Masing-masing dengan domainnya. Penindakan, Hukum, dan pengejaran pelaku harus ditangani oleh pemerintah secara serius. Sekali lagi STOP TRAFICKING SEKARANG JUGA !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar