Entri Populer

Kamis, 25 November 2010

IBADAH QURBAN MANGIKIS SIFAT KIKIR DAN SERAKAH


oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado



SESUNGGUHNYA MANUSIA DICIPTAKAN BERSIFAT KELUH KESAH LAGI KIKIR . (QS. Al Ma’arij : 19)

Tepatnya tanggal 10 Zulhijjah 1431 H lalu, setidaknya seperempat penduduk dunia dengan identitas muslim sama-sama merayakan Idul Adha atau dikenal dengan Hari Raya Qurban. Tanggal 10 Zulhijjah juga menjadi tanda dari puncak pelaksanaan Ibadah Haji di Padang Arafah berupa Wukuf bagi saudara-saudara seiman yang tengah menyempurnakan Rukun Islam kelima.
Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa di dalam dirinya melekat sifat hakiki yang menjadi pelengkap kejadiannya, yakni kikir. Dalam pengeritan bahasa Arab biasa disebut bakhil. Sifat kikir adalah sifat negative yang senantiasa berseamayam sepanjang hidup seorang manusia. Tabiat kikir adalah tabiat yang menunjukkan sifat egois, mau menang sendiri tanpa mau berbagi dengan sesamanya. Dan sifat kikir berbanding lurus dengan sifat serakah.
Praktek monopoli dengan menguasai pasar, mengkavling sumber daya, menimbun barang kebutuhan pokok untuk mengeruk keuntungan sebasar-besarnya di saat tertentu, merampas hak orang lain, memangkas dana bantuan sosial demi kesenangan pribadi, memotong subsidi program kesejahteraan rakyat dan segala bentuk keculasan lainnya, tak lain berangkat dari sifat kikir dan serakah.

Kewajiban Qurban
Allah SWT sebagai pencipta Tunggal atas manusia yang telah melengkapinya dengan sifat kikir, tentunya juga menawarkan kepada manusia akan suatu perangkat penjinaknya yang dikemas dalam wujud kewajiban.
Bukan sekedar zakat yang ditawarkan oleh Allah SWT dalam rangka mengikis sifat kikir yang ada pada diri manusia, yang mana zakat ini menjadi bukti kesalehan sosial seseorang setelah menghamba kepada Khaliqnya secara vertikal, tetapi juga bagi orang yang memiliki harta melebihi dari keperluannya diperintahkan pula untuk berqurban. Dalam Al Quran Surat Al Kautsar Allah SWT memerintah kita untuk mendirikan shalat dan berqurban. Ibadah Shalat harus membawa atsar atau bekas berupa kepedulian seseorang terhadap lingkungannya dan salah satu wajudnya adalah berqurban hewan sembelihan.
Syariat Qurban berangkat dari kisah klasik sebuah keluarga agung ribuan tahun lampau, pada awalnya menyuratkan gambaran tentang upaya Tuhan menguji akan ketulusan cinta hamba pada-Nya. Cinta yang akhirnya terbukti dengan kesediaan sang hamba menuruti segala perintah-Nya, sekalipun dinilai sangat tidak rasional. Perintah mengorbankan anak muda belia untuk disembelih jelas sulit untuk diterima nalar manusia saat itu. Apalagi pemuda belia yang dimaksud telah lama dinantikan kelahirannya setelah kurang lebih 80 tahun lamanya bahkan memaksa sang bapak yang tua itu untuk berpoligami supaya terjadi regenerasi yang dapat melanjutkan estafet perjuangan dakwahnya.
Selanjutnya, peristiwa Qurban adalah salah satu cara Allah SWT mendidik keluarga tersebut (yang kita kenal dengan keluarga Nabi Ibrahim beserta istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail) untuk berlaku ihsan kepada sesama manusia. Berbagi rasa dengan menikmati karunia Allah SWT secara berjama’ah.
Pemotongan hewan Qurban oleh kaum muslimin yang mampu untuk dibagikan kepada para fakir miskin di kalangan umat, jelas mengharuskannya senantiasa mengikis sifat-sifat kikir dan serakah yang tertanam dalam dirinya. Dengan seringnya berqurban maka seseorang telah berupaya mencegah kekikiran menguasai kepribadiannya. Membabat habis keengganan untuk bersedekah dan membantu orang lain. Belumlah cukup bagi orang yang kaya jika ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan hanya mengandalkan pada ibadah shalat, wirid dan zikir tanpa berlaku baik kepada sesama manusia.
Di dalam sabdanya Rasul saw menyatakan, “tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mempedulikan saudaranya”. Pengejawantahan nilai-nilai ubudiyah / laku ibadah sekali pun, kurang cukup berarti jika tidak dibarengi dengan kesalehan terhadap orang lain. Bahkan seorang hamba Allah berpotensi gagal langsung masuk ke surga lantaran sikap sosialnya yang buruk dan kurang peduli dengan sesama. Masa bodoh dan acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain sungguh menggambarkan kondisi keimanan yang belum solid.
Semangat berqurban sangat relevan dengan kondisi bangsa kita yang tengah dirundung malang lantaran terlalu sering diterpa musibah bencana alam yang datang silih berganti dari belahan timur nusantara hingga ke baratnya, dari banjir, gempa hingga erupsi gunung berapi.
Kemauan berqurban menyisihkan sebagian harta atau tenaga dan pikiran akan sangat membantu meringankan beban hidup saudara-saudara kita yang sehari-hari tinggal di barak-barak pengungsian, yang jauh dari kondisi ideal. Hidup dengan ancaman kekurangan makan, kedinginan, penyakit menular pernapasan, dan kondisi tak nyaman lainnya sebagaimana mereka rasakan pada saat sebelum bencana terjadi.
Qurban adalah symbol kebersamaan dan refleksi empati yang dalam sebagaimana hadits nabi saw : “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaihdari al-Nu’man bin Basyir). Penderitaan saudara-saudara kita hakekatnya penderitaan kita juga.
Di tanah air kita Indonesia khususnya, perayaan Qurban yang penuh dengan nilai-nilai sosial setidaknya terbukti menjadikan sebagian besar anak bangsa terbiasa dengan aura / suasana berqurban untuk spontan bahu membahu mengulurkan bantuan kemanusiaan di daerah-daerah bencana. Rela mengorbankan barang berharga yang sangat dicintai, rela mengorbankan harta benda yang telah lama ditabung, dan rela menyisihkan penghasilan yang sering tak banyak jumlahnya.
Akhirnya melalui semangat Ibadah Qurban, mari kita tingkatkan solidaritas sosial. Kikis habis segala sifat-sifat kikir yang menggoda hati kita, yang sering membuat kita urung membantu sesama bahkan sering menguasai diri kita dan mendorong untuk berlaku serakah terhadap orang lain.

                                                                                               

Menggapai Kesolehan Sosial Dengan Ibadah Qurban

  Menggapai Kesolehan Sosial Dengan Ibadah Qurban


 oleh : Djunaedi, S.Pd.I

Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado

 

 

Ummat Islam telah melaksanakan Idul Qurban selama kurang lebih 1400 tahun hingga kini. Untuk tahun 1431 H pelaksanaan Idul Adha nama lain Hari Raya Qurban tinggal 3 atau 4 hari lagi. Ritual Qurban adalah merupakan napak tilas dari sejarah suci keluarga yang dimuliakan Allah SWT.

Suatu ketika seorang lelaki tua tersentak bangun dari tidurnya setelah bermimpi sesuatu yang aneh. Dalam mimpinya lelaki tersebut tampak sedang melakukan prosesi penyembelihan anak muda yang masih belia dan tak lain putranya sendiri. Sempat termenung ia dan lebih memilih untuk tidak peduli.

Dia kaget lagi, mimpi pada malam sebelumnya terulang kembali. Mata bashiroh keimanannya mengatakan ini bukan mimpi biasa. Sebagai seorang yang sangat sensitive terhadap wahyu Ilahi dan memiliki insting kenabian tentu berpikir bahwa mimpinya mungkin perintah Allah SWT. Keyakinannya belum terlalu kuat.

Esoknya, di saat tidur ternyata kembali ia bermimpi hal yang sama. Setelah bermunajat kepada Tuhannya, ia pun yakin bahwa kembang tidur yang mengiringinya dalam tidur sekaligus memang benar-benar Perintah Allah SWT untuk mengorbankan seseorang yang sangat dicintai dan dirindukan kehadirannya sejak 80 tahun silam.

Lelaki tua yang selanjutnya kita pahami sebagai Nabi Ibrahim ini dengan sikap demokratis memanggil anaknya untuk berdiskusi membicarakan masalah yang tengah dihadapinya. Dengan gaya kebapakan nan bijak diserulah anaknya dengan kalimat pilihan dan dengan redaksi yang mantap.

Sejurus setelah selesai Nabi Ibrahim menyampaikan apa yang ia alami, Nabi Ismail memberikan tanggapan yang sangat sulit dicari tandingannya hatta jaman sekarang ini. Ya Bapak jika memang benar mimpi yang bapak alami adalah perintah dari Allah, maka laksanakanlah dan semoga kita termasuk orang-orang yang sabar. Timbulah perasaan syukur dan kagum pada diri Nabi Ibrahim akan jawaban monumental putranya. Sulit dibayangkan jika pertanyaan dengan kasus serupa diajukan kepada generasi sekarang ini.

Dan Ismail tidak terlahir dari ibu yang cacat akhlak dan keimanannya. Ismail dididik oleh bapak yang telah teruji kecintaannya kepada Ilahi Rabbi. Ismail adalah mantan bayi yang pernah hidup bersama sang bunda menantang ganasnya padang pasir ditinggal berdakwah sang ayah ke tanah Palestina. Intimidasi syetan yang menakut-nakutinya supaya urung menyambut seruan Ilahi berupa perintah penyembelihan dirinya dia lawan sekuat tenaga. Sekali perintah Allah diseur sekali pula ia laksanakan.

Siti Hajar adalah wanita tegar, juga tak terbantahkan kualitas imannya. Bersama Ismail yang masih merah ia ditinggal di padang sahara sebatang kara, tanpa bekal memadai mengurus si jabang bayi demi menjalankan titah Allah Yang Maha Perkasa. Cuma tawakkal dan optimis terhadap pertolongan Allahlah yang menemani keberaniannya untuk ditinggal jauh sang suami.  Berjuang tiada henti menjemput asa keberadaan sumber air demi memenuhi tenggorokan yang kering bagi diri dan buah hati. Detepislah keraguan hasil bisikan dan godaan syetan yang menyamar untuk menggoyahkan hatinya saat kabar perintah penyembelihan anaknya oleh suaminya. Demi Allah apa pun ia siap korbankan.

Saat-saat yang genting telah tiba, di sebuah bukit telah terbaring pemuda Ismail dengan mata tertutup dan tangan kaki terikat kuat di atas batu. Sementara sebilah pedang tajam terhunus di tangan kanan sang Khalilullah Ibrahim a.s siap memisahkan kepala dan badan putranya tercinta. Dengan kepasrahan yang dalam dan hati yang ngilu Ibrahim memalingkan wajahnya ke kanan tak tahan menyaksikan apa yang akan terjadi, dan “Bismillahir Rahmaanir Rohiim” disembelihlah leher putranya lalu kemudian ……. Suaru domba mengembik menahan sakit dan darah muncrat mengenai lengan dan pakaian Ibrahim. ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD.

Allah ganti Ismail dengan seekor domba gemuk sebagai balasan bagi orang-orang yang sabar menjalankan perintah-Nya tanpa banyak bertanya. Kecintaan keluarga mulia Ibrahim as bersama istri dan anaknya kepada Allah SWT luar biasa besarnya. Coban demi cobaan mereka lalui dengan tawakkal dan keimanan. Hanya satu yang keluar dari mulut mereka saat Allah memberi perintah, “Sami’na wa atho’na”.

Fragmen sejarah yang diabadikan oleh Rasul saw sebagai ibadah tahunan atau hari raya umat Islam dan bergandengan dengan ibadah Haji mengandung banyak hikmah yang dalam dan tak akan habis untuk digali, amat sempurna dan amat sulit untuk dicarikan cacatnya. Setiap idul Adha semua ummat Islam yang mampu diwajibkan berqurban sebagai bentuk sikap sosial yang adiluhung terhadap orang yang miskin dan kesusahan. Berkorban untuk kemaslahatan ummat, itulah inti dari ajaran Qurban nabiyallah Ibrahim a.s.

Di sisi lain kita dapat mengambil ibroh tentang pola asuh dan pendidikan yang diterapkan oleh Ibrahim kepada keluarganya sungguh luar biasa sukses. Kita sebagai ummat Muhammad saw melalui teladan keluarga Ibrahim harus menjadikan pendidikan terhadap keluarga di atas segala-galanya. Dengan pendidikan akan dapat dihasilkan keturunan yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT dan Dia akan terus dijadikan tujuan hidupnya.

Kita bentengi keluarga kita dari pengaruh negative yang ada di luar rumah atau di rumah sendiri yang biasanya bisa masuk lewat media televisi dna internet serta majalah-majalah atau buku-buku. Tanmkah nilai-nilai aqidah yang kuat pada diri anak dan biasakan menerapkan akhlaqul karimah sejak dini serta diajar cara bergaul dan berpaikaian islami.

Sebenarnya tidak cukup di kesempatan yang terbatas ini mengupas hikmah-hikmah sejarah nabi Ibrahim yang berkaitan dengan ibadah agung ini, Qurban. Banyak sisi-sisi baik yang kita ambil hikmahnya untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ibrahim juga disebut bapak para Nabi karena dari beliau akan lahir keturunan dengan status nabi-nabi baik dari garis Siti Hajar dan anaknya Ismail a.s maupun Siti Sarah dengan anaknya Ishaq a.s (Israel). Peninggalannya yang akan runtuh pada saat terjadinya kiamat adalah barupa bangunan persegi empat, yakni Baitullah dan akan terus dikunjungi oleh ummat Islam di seluruh dunia walaupun sudah milyaran manusia yang berkunjung sebelumnya sejak wafatnya beliau. Fakta ini sudah ditaqdirkan oleh pemilik Baitullah (Allah) sebagai jawaban atas do’anya yang mengjharapkan kemakmuran negeri mekkah.

Jumat, 05 November 2010

TAHUN 2020 JUMLAH TUNA NETRA DUNIA MENJADI 2X LIPAT


Oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada Panti Sosial Bina Netra Tumou Tou Manado

Badan kesehatan dunia WHO merillis data bahwa setidaknya ada 40 – 45 juta penderita kebutaan (cacat netra)/gangguan penglihatan. Pertahunnya tak kurang dari 7 juta orang mengalami kebutaan atau permenitnya terdapat satu pentuduk bumi menjadi buta dan perorang mengalami kebutaan perduabelas menit dan ironisnya, lagi-lagi wilayah dan negara miskinlah yang kebanyakan penduduknya mengalami kebutaan dan gangguan penglihatan, yaitu sekitar 90%.
Dan jika kondisi ini dibiarkan tanpa aksi yang nyata maka WHO memperhitungkan pada tahun 2020 mendatang, kelak jumlah penduduk dunia yang buta akan mencapai 2 kali lipat, kira-kira 80 – 90 juta orang.
Melalui peringatan World Sight Day yang jatuh tanggal 14 Oktober baru lalu WHO mencanangkan tema Count Down 2020 menjadi tonggak harapan dan cita-cita organisasi internasional itu untuk mengupayakan penduduk dunia dapat terhindar dari masalah kebutaan dan gangguan penglihatan serta memperoleh penglihatan yang optimal.
Hak untuk melihat secara optimal tanpa gangguan penglihatan adalah Hak Asasi Manusia yang harus dijamin dan sejalan dengan Delaration of Human Right. Maka dari itulah berdasarkan fakta yang memperlihatkan bahwa 75% kebutaan termasuk kategori Avoidable Blindness (kebutaan yang sebenarnya dapat dihindarkan), maka muncullah program Vision 2020 : Right to Sight.
Saat ini ada Sembilan penyakit mata utama yang merupakan avoidable blindness, yakni katarak, trakom, onkosersiasis, kebutaan pada anak, kelainan tajam penglihatan, low vision, glaucoma, retinopati diabetika, dan age related macular degeneration (ARMD).
Dan Indonesia adalah salah satu dari 40 negara yang menandatangani resolusi WHA56.26, “Elimination of Avoidable Blindness” yang dihasilkan dari komitmen kuat Negara-negara peserta World Health Assembly ke-56 yang berlangsung tahun 2003 silam, menuju Vision 2020.
Kasus Indonesia
Survey Indra Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993 – 1996 menunjukkan angka kebutaan di Indonesia 1,5%-paling tinggi di Asia - dibandingkan dengan Bangladesh 1%, India 0,7%, dan Thailand 0,3%. Artinya jika ada 12 penduduk dunia buta dalam setiap 1 jam, empat di antaranya berasal dari Asia Tenggara dan dipastikan 1 orangnya dari Indonesia. Survey ini juga diaminkan oleh Direktur Jenderal Bina Kesmas Kementerian Kesehatan RI, Budihardja. Kebutaan pada usia senja yang rentan terkena katarak sebagai penyebab 75% kebutaan, kini menjadi ancaman yang pelik bagi negera kita. Biro Pusat Statistik melaporkan bahwa pada tahun 2025 penduduk usia lanjut meningkat menjadi 414 % dibandingkan dengan tahun 1990. Dan masyarakat Indonesia berkecenderungan menderita 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah subtropis.
Tapi bagi penduduk dengan usia relatife muda tidak bisa terlalu gembira mengingat data yang disuguhkan oleh Hellen Keller Internasional cukup mengkhawatirkan. Dalam laporannya disebutkan bahwa di beberapa daerah kumuh perkotaan yang tersebar di wilayah Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta tahun 1998 menunjukkan hampir 10 juta balita mengalami avitominasis A. Data lain menunjukkan 10% dari 66 juta anak sekolah di Indonesia mengalami kelainan refraksi (rabun jauh) dan dimungkinkan mereka akan menjadi generasi muda Indonesia dengan kualitas hidup dan intelektual yang rendah,
Kebutaan dan gangguan penglihatan tidak hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat dan negara artinya rendahnya produktivitas orang dengan kecacatannya (tuna netra) jelas berdampak negatif kepada pendapatan (income) yang optimal dari suatu keluarga dan kemudian suatu daerah tempat tinggalnya. Mobilitas mereka yang rendah di lain pihak menjadi tanggungan orang yang melihat untuk membantu bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain sehingga produktifitas orang yang melihat pun menjadi terganggu pula.
Upaya pemerintah
Kementerian kesehatan RI berupaya untuk menghapus kebutaan di Indonesia melalui program Vision 2010 : Right to Sight yang sejiwa dengan semangat Badan Kesehatan Dunia WHO. Sebelumnya mantan Presiden RI ke-5 Megawati Sukarno Putri pada tahun 2000; tepatnya tanggal 15 Februari, mencanangkan program Vision 2020 Rigt to Sight dengan target bahwa angka kebutaan tahun 2005 turun menjadi 1,2%, tahun 2010 menjadi 1% dan 0,5% di tahun 2020.
Sementara Kementerian Kesehatan RI berupaya menangani penyandang cacat netra secara klinis, Kementerian Sosial RI juga turun tangan melakukan upaya rehabilitasi atau pembinaan para penca netra supaya mereka dapat menjalani hidup mandiri tanpa tergantung orang lain dan selanjutnya dapat lebih produktif sehingga mengurangi beban keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendirian Unit  Pelayanan Teknis khusus tuna netra  oleh Kemensos di beberapa daerah (Jawa, Sulawesi dan Bali) diharapkan mampu membantu percepatan program Visi 2010 yang dicanangkan oleh pemerintah tahun 2000 lalu. Artinya kemensos tidak dalam rangka menekan angka populasi penduduk dengan cacat netra di masa mendatang, namun lebih pada penanganan penyandang cacat netra supaya keluar dari kelompok Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.

Ayo kita cegah kebutaan.
Pola hidup yang kurang tepat sehari-hari dalam memperlakukan mata atau menggunakan mata, berpotensi menyebabkan kelainan mata di suatu waktu. Kalau data di atas menegaskan bahwa kebutaan yang dialami penduduk dunia termasuk kategori Avoidable Blindness, berarti sejak dini semestinya kita secara pribadi atau keluarga dapat berupaya mencegah segala faktor-faktor penyebab kelainan mata.
Ada beberapa tips yang dapat dipraktekan dalam keseharian kita sebagaimana yang sering disampaikan oleh para ahli mata di berbagai mass media berformat artikel, hasil penelitian ilmiah, iklan produk kesehatan atau penyuluhan kesehatan di rumah-rumah sakit atau Puskesmas supaya kita dapat terhindar dari kesuakan mata yang permanen atau akut.
A.     Asupan
Sudah umum diketahui bahwa makanan yang mengandung vitamin A dan betakaroten sangat baik untuk kesehatan mata. Oleh karena itu bagi ibu-ibu yang baru memiliki bayi atau balita harus mengupayakan ketersediaan makanan yang kaya dengan vitamin A. Pada ikan, buah-buahan dan sayuran banyak didapati kandungan vitamin A.
Suplemen Herbal berbahan Jintan Hitam (Habbatussauda : Bhs. Arab; Nigella Sativa : Bhs. Latin) yang sangat disarankan oleh Nabi Muhammad saw empat belas abad lampau terbukti sangat kaya dengan betakaroten. Suplemen ini cukup aman dikonsumsi oleh ibu menyusui dan anak-anak.
B.      Perilaku
Kebiasaan buruk saat membaca, menonton tv atau menatap layar monitor komputer/laptop dapat menyebabkan mata akhirnya menjadi sakit. Supaya mata kita tetap sehat lakukan hal-hal berikut :
1.      Beristirahatlah selama 5 hingga 10 menit setelah kurang lebih 2 jam mata kita berlelah-lelah menatap monitor atau buku. Untuk computer jelas ada sinar radiasi yang memapar mata dengan intensitas warnanya yang tidak stabil. Saat anda istirahat alihkan pandangan ke aarah lain, syukur syukur jika ada pemandangan alam berupa hijau daun pepohonan. Berkedip-kediplah untuk melumaskan mata yang lelah. Bahkan sekarang sudah ditemukan senam mata. Caranya dengan melirik dari kanan ke kiri dan sebaliknya, dari atas ke bawah dan sebaliknya, berputar dari kanan ke kiri dan sebaliknya, serta diagonal dari kanan ke kiri dan sebaliknya, masing-masing sekitar 5 hingga 10 kali.
2.      Saat membaca buku hindari tempat yang remang-remang. Jangan membaca dalam posisi tidur terlentang atau telungkup. Jarak mata ke buku minimal 30 cm. Sebaiknya bacalah buku dengan ukuran font yang tidak terlalu kecil karena itu akan membuat kerja mata kita menjadi lebih ekstra. Dan jarak yang aman saat di depan monitor tv kurang lebih 5x diagonal layar monitor itu. Jarak 30 – 40 cm dinilai aman saat di depan monitor computer dan posisi bagian atas layar sesuai dengan ketinggian bola mata, minimal sedikit di bawah batas mata. Layar tv dan computer biasanya dilengkapi dengan pengatur pencahayaan. Aturlah cahaya monitor hingga sedang dan tidak terlalu terang atau patokannya adalah kenyamanan mata kita. Di masa kini sudah banyak produk tv dan monitor computer berjenis LCD. Jika kita memiliki dana, akan lebih baik kita gunakan monitor LCD yang memang radiasinya lebih rendah daripada monitor CRT (masih menggunakan tabung).
3.      Pencahayaan ruang baca dan ruang computer sebaiknya diatur. Di samping menggunakan lampu dengan daya yang menghasilkan cahaya terang juga letaknya sebaiknya tepat di atas kepala atau sedikit di belakang kepala kita, sehingga intensitas cahaya cukup memadai.
4.      Kontaminasi partikel debu atau kotoran pada mata kita dapat menimbulkan gangguan penglihatan bahkan dapat menyebabkan katarak mata. Bagi kita yang suka bepergian dengan menggunakan sepeda motor, apalagi di daerah perkotaan yang tingkat polusinya tinggi, gunakanlah helm standar yang dilengkapi kaca penutup. Jika hanya helm biasa, maka kenakanlah kaca mata pelindung. UU no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mensyaratkan pengguna kendaraan bermotor untuk memakai helm bersertifikat SNI karena di samping kepala aman dari benturan terhadap berbagai benda keras, juga dapat mencegah mata dari masuknya debu jalanan. Jika sudah terlanjur terkontaminasi debu lalu terasa gatal, jangan dikucek dan segera gunakan tetes mata pembersih yang aman. Jika iritasi masih berlanjut setelah dua atau tiga kali tetes, tidak ada jalan lain kecuali harus ke dokter mata.
5.      Memeriksakan mata kita secara periodic juga turut membantu pencegahan terhadap kemungkinan resiko sakit mata. Frekuensi yang baik adalah satu kali dalam enam bulan. Unsur-unsur yang diperiksa biasanya ketajaman penglihatan dan tekanan bola mata.

Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Kita sudah mahfum dengan slogan tersebut. Keluarga sebagai unit terkecil dari suatu bangsa harus turut andil dalam upaya pencegahan kebutaan pada taraf yang mudah dilakukan sebagaimana tips-tips di atas. Jika kita masuk dalam kelompok yang kurang suka dengah hal-hal bersifat patriotic (untuk kepentingan bangsa atau kemanusiaan), maka mencegah kelainan dan gangguan penglihatan jelas bermanfaat untuk masa depan penglihatan kita dan keluarga kita sendiri. Namun berbahagilah orang-orang yang berjiwa patriot yang senantiasa jiwanya terpanggil untuk melakukan AKSI demi kepentingan kemanusiaan dengan hal-hal yang kecil sekalipun, dalam rangka MENCEGAH KEBUTAAN BANGSA DAN DUNIA.
Selamat memperingati World Sigth Day, Railhlah Vision 2020, Right to Sight Indonesiaku.

(Sumber data statistik : Laporan HU. Kompas edisi 2, 19, & 20 Oktober 2010)