oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado
SESUNGGUHNYA MANUSIA DICIPTAKAN BERSIFAT KELUH KESAH LAGI KIKIR . (QS. Al Ma’arij : 19)
Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado
SESUNGGUHNYA MANUSIA DICIPTAKAN BERSIFAT KELUH KESAH LAGI KIKIR . (QS. Al Ma’arij : 19)
Tepatnya
tanggal 10 Zulhijjah 1431 H lalu, setidaknya seperempat penduduk dunia dengan
identitas muslim sama-sama merayakan Idul Adha atau dikenal dengan Hari Raya
Qurban. Tanggal 10 Zulhijjah juga menjadi tanda dari puncak pelaksanaan Ibadah
Haji di Padang Arafah berupa Wukuf bagi saudara-saudara seiman yang tengah
menyempurnakan Rukun Islam kelima.
Sudah
menjadi tabiat manusia, bahwa di dalam dirinya melekat sifat hakiki yang
menjadi pelengkap kejadiannya, yakni kikir. Dalam pengeritan bahasa Arab biasa
disebut bakhil. Sifat kikir adalah sifat negative yang senantiasa berseamayam sepanjang
hidup seorang manusia. Tabiat kikir adalah tabiat yang menunjukkan sifat egois,
mau menang sendiri tanpa mau berbagi dengan sesamanya. Dan sifat kikir
berbanding lurus dengan sifat serakah.
Praktek
monopoli dengan menguasai pasar, mengkavling sumber daya, menimbun barang
kebutuhan pokok untuk mengeruk keuntungan sebasar-besarnya di saat tertentu,
merampas hak orang lain, memangkas dana bantuan sosial demi kesenangan pribadi,
memotong subsidi program kesejahteraan rakyat dan segala bentuk keculasan
lainnya, tak lain berangkat dari sifat kikir dan serakah.
Kewajiban Qurban
Allah
SWT sebagai pencipta Tunggal atas manusia yang telah melengkapinya dengan sifat
kikir, tentunya juga menawarkan kepada manusia akan suatu perangkat penjinaknya
yang dikemas dalam wujud kewajiban.
Bukan
sekedar zakat yang ditawarkan oleh Allah SWT dalam rangka mengikis sifat kikir yang
ada pada diri manusia, yang mana zakat ini menjadi bukti kesalehan sosial
seseorang setelah menghamba kepada Khaliqnya secara vertikal, tetapi juga bagi
orang yang memiliki harta melebihi dari keperluannya diperintahkan pula untuk
berqurban. Dalam Al Quran Surat Al Kautsar Allah SWT memerintah kita untuk
mendirikan shalat dan berqurban. Ibadah Shalat harus membawa atsar atau bekas berupa
kepedulian seseorang terhadap lingkungannya dan salah satu wajudnya adalah berqurban
hewan sembelihan.
Syariat
Qurban berangkat dari kisah klasik sebuah keluarga agung ribuan tahun lampau, pada
awalnya menyuratkan gambaran tentang upaya Tuhan menguji akan ketulusan cinta
hamba pada-Nya. Cinta yang akhirnya terbukti dengan kesediaan sang hamba menuruti
segala perintah-Nya, sekalipun dinilai sangat tidak rasional. Perintah
mengorbankan anak muda belia untuk disembelih jelas sulit untuk diterima nalar
manusia saat itu. Apalagi pemuda belia yang dimaksud telah lama dinantikan
kelahirannya setelah kurang lebih 80 tahun lamanya bahkan memaksa sang bapak
yang tua itu untuk berpoligami supaya terjadi regenerasi yang dapat melanjutkan
estafet perjuangan dakwahnya.
Selanjutnya,
peristiwa Qurban adalah salah satu cara Allah SWT mendidik keluarga tersebut (yang
kita kenal dengan keluarga Nabi Ibrahim beserta istrinya Siti Hajar dan
putranya Ismail) untuk berlaku ihsan kepada sesama manusia. Berbagi rasa dengan
menikmati karunia Allah SWT secara berjama’ah.
Pemotongan
hewan Qurban oleh kaum muslimin yang mampu untuk dibagikan kepada para fakir
miskin di kalangan umat, jelas mengharuskannya senantiasa mengikis sifat-sifat
kikir dan serakah yang tertanam dalam dirinya. Dengan seringnya berqurban maka
seseorang telah berupaya mencegah kekikiran menguasai kepribadiannya. Membabat
habis keengganan untuk bersedekah dan membantu orang lain. Belumlah cukup bagi
orang yang kaya jika ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan hanya
mengandalkan pada ibadah shalat, wirid dan zikir tanpa berlaku baik kepada
sesama manusia.
Di
dalam sabdanya Rasul saw menyatakan, “tidak sempurna iman seseorang di antara
kamu hingga ia mempedulikan saudaranya”. Pengejawantahan nilai-nilai ubudiyah /
laku ibadah sekali pun, kurang cukup berarti jika tidak dibarengi dengan
kesalehan terhadap orang lain. Bahkan seorang hamba Allah berpotensi gagal langsung
masuk ke surga lantaran sikap sosialnya yang buruk dan kurang peduli dengan
sesama. Masa bodoh dan acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain sungguh
menggambarkan kondisi keimanan yang belum solid.
Semangat
berqurban sangat relevan dengan kondisi bangsa kita yang tengah dirundung
malang lantaran terlalu sering diterpa musibah bencana alam yang datang silih
berganti dari belahan timur nusantara hingga ke baratnya, dari banjir, gempa
hingga erupsi gunung berapi.
Kemauan
berqurban menyisihkan sebagian harta atau tenaga dan pikiran akan sangat
membantu meringankan beban hidup saudara-saudara kita yang sehari-hari tinggal
di barak-barak pengungsian, yang jauh dari kondisi ideal. Hidup dengan ancaman
kekurangan makan, kedinginan, penyakit menular pernapasan, dan kondisi tak
nyaman lainnya sebagaimana mereka rasakan pada saat sebelum bencana terjadi.
Qurban
adalah symbol kebersamaan dan refleksi empati yang dalam sebagaimana hadits
nabi saw : “Perumpamaan orang-orang yang
beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka
adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh
tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaihdari
al-Nu’man bin Basyir). Penderitaan saudara-saudara kita hakekatnya penderitaan
kita juga.
Di
tanah air kita Indonesia khususnya, perayaan Qurban yang penuh dengan
nilai-nilai sosial setidaknya terbukti menjadikan sebagian besar anak bangsa terbiasa
dengan aura / suasana berqurban untuk spontan bahu membahu mengulurkan bantuan
kemanusiaan di daerah-daerah bencana. Rela mengorbankan barang berharga yang
sangat dicintai, rela mengorbankan harta benda yang telah lama ditabung, dan
rela menyisihkan penghasilan yang sering tak banyak jumlahnya.
Akhirnya
melalui semangat Ibadah Qurban, mari kita tingkatkan solidaritas sosial. Kikis
habis segala sifat-sifat kikir yang menggoda hati kita, yang sering membuat
kita urung membantu sesama bahkan sering menguasai diri kita dan mendorong untuk
berlaku serakah terhadap orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar