Entri Populer

Kamis, 25 November 2010

IBADAH QURBAN MANGIKIS SIFAT KIKIR DAN SERAKAH


oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado



SESUNGGUHNYA MANUSIA DICIPTAKAN BERSIFAT KELUH KESAH LAGI KIKIR . (QS. Al Ma’arij : 19)

Tepatnya tanggal 10 Zulhijjah 1431 H lalu, setidaknya seperempat penduduk dunia dengan identitas muslim sama-sama merayakan Idul Adha atau dikenal dengan Hari Raya Qurban. Tanggal 10 Zulhijjah juga menjadi tanda dari puncak pelaksanaan Ibadah Haji di Padang Arafah berupa Wukuf bagi saudara-saudara seiman yang tengah menyempurnakan Rukun Islam kelima.
Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa di dalam dirinya melekat sifat hakiki yang menjadi pelengkap kejadiannya, yakni kikir. Dalam pengeritan bahasa Arab biasa disebut bakhil. Sifat kikir adalah sifat negative yang senantiasa berseamayam sepanjang hidup seorang manusia. Tabiat kikir adalah tabiat yang menunjukkan sifat egois, mau menang sendiri tanpa mau berbagi dengan sesamanya. Dan sifat kikir berbanding lurus dengan sifat serakah.
Praktek monopoli dengan menguasai pasar, mengkavling sumber daya, menimbun barang kebutuhan pokok untuk mengeruk keuntungan sebasar-besarnya di saat tertentu, merampas hak orang lain, memangkas dana bantuan sosial demi kesenangan pribadi, memotong subsidi program kesejahteraan rakyat dan segala bentuk keculasan lainnya, tak lain berangkat dari sifat kikir dan serakah.

Kewajiban Qurban
Allah SWT sebagai pencipta Tunggal atas manusia yang telah melengkapinya dengan sifat kikir, tentunya juga menawarkan kepada manusia akan suatu perangkat penjinaknya yang dikemas dalam wujud kewajiban.
Bukan sekedar zakat yang ditawarkan oleh Allah SWT dalam rangka mengikis sifat kikir yang ada pada diri manusia, yang mana zakat ini menjadi bukti kesalehan sosial seseorang setelah menghamba kepada Khaliqnya secara vertikal, tetapi juga bagi orang yang memiliki harta melebihi dari keperluannya diperintahkan pula untuk berqurban. Dalam Al Quran Surat Al Kautsar Allah SWT memerintah kita untuk mendirikan shalat dan berqurban. Ibadah Shalat harus membawa atsar atau bekas berupa kepedulian seseorang terhadap lingkungannya dan salah satu wajudnya adalah berqurban hewan sembelihan.
Syariat Qurban berangkat dari kisah klasik sebuah keluarga agung ribuan tahun lampau, pada awalnya menyuratkan gambaran tentang upaya Tuhan menguji akan ketulusan cinta hamba pada-Nya. Cinta yang akhirnya terbukti dengan kesediaan sang hamba menuruti segala perintah-Nya, sekalipun dinilai sangat tidak rasional. Perintah mengorbankan anak muda belia untuk disembelih jelas sulit untuk diterima nalar manusia saat itu. Apalagi pemuda belia yang dimaksud telah lama dinantikan kelahirannya setelah kurang lebih 80 tahun lamanya bahkan memaksa sang bapak yang tua itu untuk berpoligami supaya terjadi regenerasi yang dapat melanjutkan estafet perjuangan dakwahnya.
Selanjutnya, peristiwa Qurban adalah salah satu cara Allah SWT mendidik keluarga tersebut (yang kita kenal dengan keluarga Nabi Ibrahim beserta istrinya Siti Hajar dan putranya Ismail) untuk berlaku ihsan kepada sesama manusia. Berbagi rasa dengan menikmati karunia Allah SWT secara berjama’ah.
Pemotongan hewan Qurban oleh kaum muslimin yang mampu untuk dibagikan kepada para fakir miskin di kalangan umat, jelas mengharuskannya senantiasa mengikis sifat-sifat kikir dan serakah yang tertanam dalam dirinya. Dengan seringnya berqurban maka seseorang telah berupaya mencegah kekikiran menguasai kepribadiannya. Membabat habis keengganan untuk bersedekah dan membantu orang lain. Belumlah cukup bagi orang yang kaya jika ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan hanya mengandalkan pada ibadah shalat, wirid dan zikir tanpa berlaku baik kepada sesama manusia.
Di dalam sabdanya Rasul saw menyatakan, “tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mempedulikan saudaranya”. Pengejawantahan nilai-nilai ubudiyah / laku ibadah sekali pun, kurang cukup berarti jika tidak dibarengi dengan kesalehan terhadap orang lain. Bahkan seorang hamba Allah berpotensi gagal langsung masuk ke surga lantaran sikap sosialnya yang buruk dan kurang peduli dengan sesama. Masa bodoh dan acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain sungguh menggambarkan kondisi keimanan yang belum solid.
Semangat berqurban sangat relevan dengan kondisi bangsa kita yang tengah dirundung malang lantaran terlalu sering diterpa musibah bencana alam yang datang silih berganti dari belahan timur nusantara hingga ke baratnya, dari banjir, gempa hingga erupsi gunung berapi.
Kemauan berqurban menyisihkan sebagian harta atau tenaga dan pikiran akan sangat membantu meringankan beban hidup saudara-saudara kita yang sehari-hari tinggal di barak-barak pengungsian, yang jauh dari kondisi ideal. Hidup dengan ancaman kekurangan makan, kedinginan, penyakit menular pernapasan, dan kondisi tak nyaman lainnya sebagaimana mereka rasakan pada saat sebelum bencana terjadi.
Qurban adalah symbol kebersamaan dan refleksi empati yang dalam sebagaimana hadits nabi saw : “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaihdari al-Nu’man bin Basyir). Penderitaan saudara-saudara kita hakekatnya penderitaan kita juga.
Di tanah air kita Indonesia khususnya, perayaan Qurban yang penuh dengan nilai-nilai sosial setidaknya terbukti menjadikan sebagian besar anak bangsa terbiasa dengan aura / suasana berqurban untuk spontan bahu membahu mengulurkan bantuan kemanusiaan di daerah-daerah bencana. Rela mengorbankan barang berharga yang sangat dicintai, rela mengorbankan harta benda yang telah lama ditabung, dan rela menyisihkan penghasilan yang sering tak banyak jumlahnya.
Akhirnya melalui semangat Ibadah Qurban, mari kita tingkatkan solidaritas sosial. Kikis habis segala sifat-sifat kikir yang menggoda hati kita, yang sering membuat kita urung membantu sesama bahkan sering menguasai diri kita dan mendorong untuk berlaku serakah terhadap orang lain.

                                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar