oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada PSBN Tumou Tou Manado
Ummat Islam telah melaksanakan Idul Qurban selama kurang lebih 1400 tahun hingga kini. Untuk tahun 1431 H pelaksanaan Idul Adha nama lain Hari Raya Qurban tinggal 3 atau 4 hari lagi. Ritual Qurban adalah merupakan napak tilas dari sejarah suci keluarga yang dimuliakan Allah SWT.
Suatu ketika seorang lelaki tua tersentak bangun dari tidurnya setelah bermimpi sesuatu yang aneh. Dalam mimpinya lelaki tersebut tampak sedang melakukan prosesi penyembelihan anak muda yang masih belia dan tak lain putranya sendiri. Sempat termenung ia dan lebih memilih untuk tidak peduli.
Dia kaget lagi, mimpi pada malam sebelumnya terulang kembali. Mata bashiroh keimanannya mengatakan ini bukan mimpi biasa. Sebagai seorang yang sangat sensitive terhadap wahyu Ilahi dan memiliki insting kenabian tentu berpikir bahwa mimpinya mungkin perintah Allah SWT. Keyakinannya belum terlalu kuat.
Esoknya, di saat tidur ternyata kembali ia bermimpi hal yang sama. Setelah bermunajat kepada Tuhannya, ia pun yakin bahwa kembang tidur yang mengiringinya dalam tidur sekaligus memang benar-benar Perintah Allah SWT untuk mengorbankan seseorang yang sangat dicintai dan dirindukan kehadirannya sejak 80 tahun silam.
Lelaki tua yang selanjutnya kita pahami sebagai Nabi Ibrahim ini dengan sikap demokratis memanggil anaknya untuk berdiskusi membicarakan masalah yang tengah dihadapinya. Dengan gaya kebapakan nan bijak diserulah anaknya dengan kalimat pilihan dan dengan redaksi yang mantap.
Sejurus setelah selesai Nabi Ibrahim menyampaikan apa yang ia alami, Nabi Ismail memberikan tanggapan yang sangat sulit dicari tandingannya hatta jaman sekarang ini. Ya Bapak jika memang benar mimpi yang bapak alami adalah perintah dari Allah, maka laksanakanlah dan semoga kita termasuk orang-orang yang sabar. Timbulah perasaan syukur dan kagum pada diri Nabi Ibrahim akan jawaban monumental putranya. Sulit dibayangkan jika pertanyaan dengan kasus serupa diajukan kepada generasi sekarang ini.
Dan Ismail tidak terlahir dari ibu yang cacat akhlak dan keimanannya. Ismail dididik oleh bapak yang telah teruji kecintaannya kepada Ilahi Rabbi. Ismail adalah mantan bayi yang pernah hidup bersama sang bunda menantang ganasnya padang pasir ditinggal berdakwah sang ayah ke tanah Palestina. Intimidasi syetan yang menakut-nakutinya supaya urung menyambut seruan Ilahi berupa perintah penyembelihan dirinya dia lawan sekuat tenaga. Sekali perintah Allah diseur sekali pula ia laksanakan.
Siti Hajar adalah wanita tegar, juga tak terbantahkan kualitas imannya. Bersama Ismail yang masih merah ia ditinggal di padang sahara sebatang kara, tanpa bekal memadai mengurus si jabang bayi demi menjalankan titah Allah Yang Maha Perkasa. Cuma tawakkal dan optimis terhadap pertolongan Allahlah yang menemani keberaniannya untuk ditinggal jauh sang suami. Berjuang tiada henti menjemput asa keberadaan sumber air demi memenuhi tenggorokan yang kering bagi diri dan buah hati. Detepislah keraguan hasil bisikan dan godaan syetan yang menyamar untuk menggoyahkan hatinya saat kabar perintah penyembelihan anaknya oleh suaminya. Demi Allah apa pun ia siap korbankan.
Saat-saat yang genting telah tiba, di sebuah bukit telah terbaring pemuda Ismail dengan mata tertutup dan tangan kaki terikat kuat di atas batu. Sementara sebilah pedang tajam terhunus di tangan kanan sang Khalilullah Ibrahim a.s siap memisahkan kepala dan badan putranya tercinta. Dengan kepasrahan yang dalam dan hati yang ngilu Ibrahim memalingkan wajahnya ke kanan tak tahan menyaksikan apa yang akan terjadi, dan “Bismillahir Rahmaanir Rohiim” disembelihlah leher putranya lalu kemudian ……. Suaru domba mengembik menahan sakit dan darah muncrat mengenai lengan dan pakaian Ibrahim. ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD.
Allah ganti Ismail dengan seekor domba gemuk sebagai balasan bagi orang-orang yang sabar menjalankan perintah-Nya tanpa banyak bertanya. Kecintaan keluarga mulia Ibrahim as bersama istri dan anaknya kepada Allah SWT luar biasa besarnya. Coban demi cobaan mereka lalui dengan tawakkal dan keimanan. Hanya satu yang keluar dari mulut mereka saat Allah memberi perintah, “Sami’na wa atho’na”.
Fragmen sejarah yang diabadikan oleh Rasul saw sebagai ibadah tahunan atau hari raya umat Islam dan bergandengan dengan ibadah Haji mengandung banyak hikmah yang dalam dan tak akan habis untuk digali, amat sempurna dan amat sulit untuk dicarikan cacatnya. Setiap idul Adha semua ummat Islam yang mampu diwajibkan berqurban sebagai bentuk sikap sosial yang adiluhung terhadap orang yang miskin dan kesusahan. Berkorban untuk kemaslahatan ummat, itulah inti dari ajaran Qurban nabiyallah Ibrahim a.s.
Di sisi lain kita dapat mengambil ibroh tentang pola asuh dan pendidikan yang diterapkan oleh Ibrahim kepada keluarganya sungguh luar biasa sukses. Kita sebagai ummat Muhammad saw melalui teladan keluarga Ibrahim harus menjadikan pendidikan terhadap keluarga di atas segala-galanya. Dengan pendidikan akan dapat dihasilkan keturunan yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT dan Dia akan terus dijadikan tujuan hidupnya.
Kita bentengi keluarga kita
dari pengaruh negative yang ada di luar rumah atau di rumah sendiri yang
biasanya bisa masuk lewat media televisi dna internet serta majalah-majalah
atau buku-buku. Tanmkah nilai-nilai aqidah yang kuat pada diri anak dan
biasakan menerapkan akhlaqul karimah sejak dini serta diajar cara bergaul dan
berpaikaian islami.
Sebenarnya tidak cukup di kesempatan yang terbatas ini mengupas hikmah-hikmah sejarah nabi Ibrahim yang berkaitan dengan ibadah agung ini, Qurban. Banyak sisi-sisi baik yang kita ambil hikmahnya untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Ibrahim juga disebut bapak
para Nabi karena dari beliau akan lahir keturunan dengan status nabi-nabi baik
dari garis Siti Hajar dan anaknya Ismail a.s maupun Siti Sarah dengan anaknya
Ishaq a.s (Israel). Peninggalannya yang akan runtuh pada saat terjadinya kiamat
adalah barupa bangunan persegi empat, yakni Baitullah dan akan terus dikunjungi
oleh ummat Islam di seluruh dunia walaupun sudah milyaran manusia yang
berkunjung sebelumnya sejak wafatnya beliau. Fakta ini sudah ditaqdirkan oleh
pemilik Baitullah (Allah) sebagai jawaban atas do’anya yang mengjharapkan
kemakmuran negeri mekkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar